
Artikel ini, dipersembahkan oleh Cetro Trading Insight, merangkum pandangan Michael Pfister dari Commerzbank tentang dinamika EUR/USD belakangan ini. Menurutnya, pelemahan euro lebih banyak dipicu oleh kekuatan dolar AS daripada kerentanan euro itu sendiri. Pergerakan ini dipicu oleh ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang menjadi motor utama di pasar valuta asing.
Penurunan harga minyak dan menurunnya ekspektasi inflasi membatasi potensi kenaikan suku bunga ECB. Dalam skenario saat ini, pemulihan euro sangat bergantung pada penurunan ekspektasi pasar terhadap Fed. Tanpa penurunan ekspektasi tersebut, euro sulit menguat meskipun ada sinyal pelonggaran di sisi lain.
Commerzbank mencatat bahwa inflasi di zona euro diperkirakan tetap relatif tinggi dalam beberapa bulan ke depan. Mereka menilai level EUR/USD sekitar 1,18 baru akan terlihat dalam horizon yang lebih lama. Oleh karena itu, pergerakan utama masih bergantung pada arah dolar AS.
Ekonom Commerzbank menekankan bahwa ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve tetap menjadi faktor pendorong utama. Meski inflasi mulai mereda, banyak investor menilai kebijakan The Fed akan tetap tegas, yang mendukung kekuatan dolar. Pergolakan kebijakan Fed yang dibahas para analis menambah kompleksitas bagi EUR/USD.
Inflasi zona euro diperkirakan stabil pada level yang relatif tinggi dalam beberapa bulan mendatang, sehingga penurunan inflasi bulan Juni tidak akan menandai awal tren turun. Jika data inflasi menunjukkan tekanan harga berlanjut, euro bisa mendapatkan dukungan dari prospek ECB yang lebih dovish atau lebih hawkish sesuai data.
Secara jangka panjang, pergerakan EUR/USD lebih mungkin didorong oleh pelemahan dolar AS daripada kekuatan euro, meskipun membutuhkan waktu. Sinyal pasar tentang kebijakan Fed tetap menjadi kunci, dan pernyataan resmi terkait arah suku bunga akan sangat mempengaruhi jalur pasangan mata uang ini.
Daripada mencoba memanfaatkan fluktuasi jangka pendek, investor perlu menilai dinamika inflasi dan ekspektasi kebijakan sebagai pendorong utama. Fokus utama adalah bagaimana data inflasi AS dan kredibilitas kebijakan Fed berinteraksi dengan dinamika euro. Analisis ini membantu membangun kerangka strategi yang lebih jelas sebelum memasuki posisi.
Stabilitas inflasi di kawasan euro dan arah kebijakan ECB turut menentukan arah pasangan mata uang ini. Jika inflasi tetap tinggi, ECB kemungkinan menahan diri dari kenaikan tajam, sehingga euro tidak akan tumbuh signifikan terhadap dolar. Sebaliknya, jika pasar melihat sinyal pelonggaran kebijakan AS mereda, dolar bisa melemah dan EURUSD berpotensi rebound dalam jangka menengah.
Karena informasi dalam artikel ini tidak memberi rekomendasi entry jelas, sinyal perdagangan disampaikan sebagai 'no'. Trader dianjurkan menunggu konfirmasi teknikal maupun fundamental yang lebih kuat sebelum membuka posisi. Dengan syarat risiko/imbalan minimal 1:1,5, lebih bijak menunda eksekusi hingga peluang yang lebih terverifikasi muncul.