EUR/USD menunjukkan kenaikan terbatas pada awal sesi Eropa, namun mayoritas gain tersebut tersapu ketika dolar AS mulai menguat. Menurut analisis, DXY berada di sekitar 100,35 meskipun mendekati level tertinggi sembilan bulan di 100,54. Ketidakpastian seputar kebijakan moneter menambah volatilitas jangka pendek bagi pasangan mata uang utama ini.
Di pasar global, harga minyak yang lebih tinggi meningkatkan ekspektasi inflasi, sehingga menekan minat terhadap risiko dan mendukung penguatan dolar sebagai aset pelindung nilai. Kondisi risk-off juga terlihat dari arus pelaku pasar yang lebih berhati-hati menjelang rilis kebijakan bank sentral utama pekan ini. Pelaku pasar juga menantikan klarifikasi jalur kebijakan jangka pendek dari bank sentral, yang dapat menentukan arah EUR/USD dalam beberapa sesi ke depan.
Meski demikian, pergerakan euro tetap sensitif terhadap arah kebijakan Fed dan ECB. Pasar menantikan keputusan yang diperkirakan tidak akan mengubah suku bunga saat ini, meskipun tanda-tanda pelemahan inflasi dan dinamika harga energi tetap menjadi faktor utama untuk penilaian arah euro ke depan. Volatilitas jangka pendek bisa bertumpu pada rilis data ekonomi utama minggu ini.
Para pelaku pasar mengantisipasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini dalam beberapa pertemuan mendatang, seiring marjin inflasi yang masih berdekatan dengan target 2%. Keputusan tersebut diperkirakan menahan volatilitas pada EURUSD dalam beberapa sesi ke depan. Analisis teknikal memperlihatkan konsolidasi di sekitar level 1,14 sebagai area penting bagi penentuan arah.
Sementara itu, European Central Bank juga diperkirakan mempertahankan kebijakan moneter tanpa perubahan suku bunga, mengingat tekanan harga masih relatif stabil di sekitar target 2% dalam periode yang lebih panjang. Pasar akan memantau bagaimana komentar pejabat Bank Sentral memberi gambaran mengenai durasi kebijakan status quo itu. Notulen rapat dan komentar pembuat kebijakan berpotensi memicu pergerakan volatilitas jika ada perubahan nada kebijakan.
Di tengah fokus kebijakan, para analis menilai bahwa gerak harga minyak dan dinamika supply-demand energi global dapat mempengaruhi ekspektasi inflasi dan arus modal. Ketidakpastian regional terkait geopolitik memperlambat penguatan euro, meskipun data ekonomi Eropa secara umum tetap menjaga jalur pemulihan. Investor tetap memantau fluktuasi harga minyak sebagai faktor pendorong inflasi global.