EUR/USD bergerak lebih rendah seiring USD menunjukkan kestabilan setelah beberapa kelemahan sebelumnya. Data ritel AS yang lebih kuat dari perkiraan memberi dorongan bagi dolar untuk tetap berfungsi sebagai penahan bagi pasangan mata uang utama. Pergerakan ini menimpa posisi EUR di tengah ekspektasi bahwa kebijakan moneter bank sentral akan menimbang arah pasar ke depan. Imbas dari angka-angka tersebut membentuk bias bearish terhadap euro dalam kerangka waktu sesudah rilis.
Penurunan tidak disertai dengan peluncuran jual besar-besaran karena sentimen pasar tetap berhati-hati. Para pelaku pasar menakar risiko geopolitik dan prospek negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, sehingga potensi penurunan lanjutan terbatas. Dalam konteks teknis, EUR/USD masih mendekati level tertinggi akhir-akhir ini meskipun ada tekanan dari dolar yang menguat.
Saat ini, harga EUR/USD berkutat sekitar kisaran yang mencerminkan kehati-hatian investor, dengan One-Liner: 1.1755 sebagai penanda. Indeks DXY juga bergerak di sekitar 98.32, menunjukkan stabilitas relatif bagi Greenback meskipun dinamika fundamental masih kuat. Analisis pasar menilai bahwa sentiment global tetap rentan terhadap peristiwa geopolitik, sehingga volatilitas bisa meningkat menjelang rilis data dan perkembangan diplomatik selanjutnya.
Data ekonomi AS yang menunjukkan daya tahan ekonomi menjadi pendorong utama bagi dolar. Laporan Penjualan Ritel utama bulan Maret naik 1.7% MoM melampaui ekspektasi 1.4%, dan bahkan kenaikan Februari direvisi positif. Sektor kendaraan tidak menjadi penentu inti karena penjualan komponen lainnya juga menunjukkan momentum. Angka-angka ini memperkuat persepsi pasar bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan kebijakan saat ini lebih lama.
Pasar juga mencerna komentar calon Ketua Fed yang mengusulkan kerangka inflasi baru dan menyebut perlunya perubahan rezim kebijakan. Komentar tersebut menambah dinamika terhadap ekspektasi pasar mengenai bagaimana kebijakan masa depan akan dijalanakan. Sementara itu, kekhawatiran terkait inflasi dan harga minyak tetap menjadi fokus, karena volatilitas harga energi dapat mempengaruhi jalur kebijakan moneter.
Di samping faktor ekonomi, ketegangan AS-Iran dan tenggat gencatan senjata menambah nuansa kehati-hatian. Berita mengenai potensi pembicaraan damai dan dimulainya negosiasi berikutnya menahan ekspektasi pasar untuk perbaikan besar dalam waktu dekat. Ketidakpastian seputar partisipasi Iran mempertegas risiko geopolitik yang dapat memicu pergeseran besar pada likuiditas dan volatilitas pasangan mata uang utama.