IHSG siap meluncur di kuartal II-2026, mengguncang panggung investasi dengan momentum yang jarang terlihat. Gelombang likuiditas dan dinamika domestik serta global sedang berpihak pada pasar saham Indonesia. Di tengah ketidakpastian internasional, sinyal pemulihan lokal memberi pondasi bagi pergerakan indeks ke arah posisi yang lebih kuat.
Menurut laporan dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, khususnya analis pasar senior Nafan Aji Gusta Utama, periode April hingga Juli secara historis menjadi fase penguatan bagi IHSG. Berbagai katalis domestik menambah optimisme, sedangkan faktor global mendukung arus dana masuk. Scenario ini meningkatkan probabilitas kenaikan indeks meskipun volatilitas masih tinggi.
Aliran dana dividen yang berasal dari emiten berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan dan energi, umumnya direalokasikan kembali ke pasar. Dengan demikian likuiditas pasar tetap terjaga, memberi peluang pembentukan tren positif dalam beberapa kuartal ke depan.
Selain dukungan dividen, pergerakan IHSG juga didorong oleh prospek saham-saham unggulan dengan imbal hasil deviden tinggi. IDX80 menjadi fokus karena yieldnya yang menarik, memberikan insentif bagi investor untuk menambah posisi pada saat pasar sedang volatil.
Saham-saham seperti ITMG dan PTBA disebut-sebut menawarkan dividend yield dua digit, masing-masing sekitar 13–15 persen dan 10,5–12 persen. Sementara itu, emiten perbankan daerah seperti BJTM dan BJBR juga menarik dengan yield di kisaran 7–8 persen. Sektor energi dan komoditas tetap menjadi motor penggerak, meski beban pendapatan bank cenderung jadi sorotan.
Di sisi lain, beberapa saham besar seperti ADRO, ASII, hingga UNTR tetap menawarkan prospek nilai yang kompetitif seiring ekspansi bisnis dan dinamika sektor terkait. Pendekatan value investing menjadi fokus, dengan investor yang mulai melirik saham undervalued, deep value, maupun asset play seperti AUTO, BBTN, dan BSDE.
Di tengah sorotan kinerja kuartal I-2026, risikonya tetap ada. Geopolitik dan volatilitas nilai tukar rupiah berpotensi membebani sentimen investor dan mendongkrak biaya impor. Investor juga perlu memahami bahwa realisasi pertumbuhan ekonomi bisa mematahkan skenario optimistis jika angkanya di bawah ekspektasi.
Para analis menekankan diversifikasi lintas sektor dan pembagian risiko. Strategi pembelian bertahap (averaging) menjadi pilihan bijak saat IHSG masih berfluktuasi. Dalam pandangan mereka, tidak ada posisi bottom yang pasti sehingga pendekatan bertahap membantu mengelola risiko dengan lebih efektif.
Konjungtur makro juga memberi rekomendasi bagi investor: menggabungkan saham defensif seperti perbankan dan konsumen non-siklikal dengan saham berbasis pertumbuhan, misalnya sektor pertambangan. Cetro Trading Insight menyoroti bahwa target IHSG berada pada kisaran 8.046–8.312, dengan potensi re-rating valuasi jika kinerja emiten mendukung pertumbuhan laba dua digit di tengah suku bunga tinggi. Tim kami juga mengingatkan pentingnya kebijakan pasar modal dan stabilitas reformasi untuk menarik investasi institusional global. Hasilnya, prospek IHSG tetap positif asalkan risiko geopolitik terkelola dengan baik.