Klaim pengangguran awal minggu ini turun menjadi 198.000, melampaui ekspektasi sekitar 215.000. Data tersebut menandakan bahwa pasar tenaga kerja tetap ketat meski beberapa indikator aktivitas ekonomi menunjukkan perbaikan. Revisi data untuk pekan sebelumnya juga menempatkan laju pelepasan kerja pada level rendah yang lebih konsisten, menambah ketahanan terhadap tekanan ekonomi.
Indeks manufaktur regional membaik, dengan Empire State naik menjadi 7,7 dari -3,7. Survei Fed Philadelphia juga menunjukkan pembaruan positif, naik menjadi 12,6 dari -8,8. Kondisi ini memperkuat gambaran bahwa sisi bisnis tetap tahan banting meski ada tantangan inflasi dan volatilitas pasar.
Sebagai respons di pasar, indeks DXY menguat ke sekitar 99,35, mendekati level tertinggi satu bulan. EUR/USD pun terdorong lebih rendah akibat penguatan dolar, sementara para analis menyoroti peluang bahwa dinamika tenaga kerja akan memandu pergerakan suku bunga di bulan-bulan mendatang.
Presiden Fed Chicago, Austan Goolsbee, menegaskan bahwa ia tidak terkejut dengan klaim pengangguran yang rendah dan menekankan bahwa kekuatan pasar kerja masih nyata. Ia menilai bahwa inflasi tetap menjadi tantangan utama kebijakan dan bahwa data inflasi yang masuk sangat penting untuk mengarahkan keputusan selanjutnya. Goolsbee menekankan bahwa stabilitas pekerjaan memberi ruang bagi evaluasi jalur kebijakan di masa depan.
Ia juga menyiratkan bahwa suku bunga masih dapat turun cukup banyak sepanjang tahun ini, namun langkah tersebut baru layak jika bukti inflasi menurun secara konsisten. Kritik utama tetap terletak pada bagaimana inflasi bergerak menuju target 2% sambil menjaga momentum pertumbuhan. Penilaiannya adalah bahwa data inflasi akan menjadi kunci penentuan perubahan kebijakan.
Presiden Fed Atlanta, Raphael Bostic, menampilkan nada yang lebih hati-hati. Ia menegaskan bahwa kebijakan perlu tetap ketat karena inflasi masih terlalu tinggi dan risiko terhadap harga konsumen perlu dikelola. Ia memperkirakan tekanan inflasi bisa bertahan hingga 2026 sambil percaya bahwa pertumbuhan ekonomi akan tetap tangguh, dengan proyeksi di atas 2% untuk 2026.
Pembahasan kebijakan berfokus pada data inflasi dan tenaga kerja sebagai sinyal utama arah suku bunga. Para pembuat kebijakan menyaratkan bahwa penurunan suku bunga hanya akan terjadi ketika indikator inflasi benar‑benar melunak. Pasar menilai bahwa jalan menuju pelonggaran kebijakan akan tergantung pada momentum inflasi dan perbaikan kondisi pasar tenaga kerja.
Di sisi pasar, pergerakan EUR/USD mencerminkan perbedaan dinamika antar wilayah. Ketika dolar menguat, euro cenderung tergelincir lebih dalam dan menambah volatilitas pasangan mata uang utama ini. Investor akan menilai pernyataan pejabat bank sentral serta data ekonomi berikutnya untuk menilai risiko dan peluang mata uang.
Secara makro, proyeksi pertumbuhan AS diperkirakan tetap di atas 2% pada 2026 meskipun inflasi menunjukkan dinamika yang menantang. Bank sentral dan pasar akan terus menimbang antara menjaga stabilitas harga dan mendukung aktivitas ekonomi. Kondisi ini menegaskan bahwa EURUSD bisa tetap volatil karena perubahan ekspektasi kebijakan dan dinamika pasar tenaga kerja.