Data inflasi AS untuk Februari dirilis dan menunjukkan CPI bulanan sebesar 0,3%, sesuai ekspektasi pasar, naik dari 0,2% pada bulan sebelumnya. Secara tahunan, headline CPI berada di 2,4%, tetap sejalan dengan perkiraan analis. Adapun CPI inti, yang tidak memasukkan fluktuasi harga makanan dan energi, naik 0,2% secara bulanan dengan laju tahunan 2,5%.
Respon pasar terlihat pada penguatan Dolar AS, dengan indeks dolar (DXY) naik dan berada di sekitar 99,13. Gerak ini menandakan pasar menilai inflasi tetap kuat meski angka bulanan telah sesuai paparan, sehingga tekanan pada dolar cenderung bertahan menjelang keputusan kebijakan moneter berikutnya.
Secara implikatif, data inflasi memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan sikap kebijakan yang berhati-hati dan rentan terhadap suku bunga lebih lama. Meskipun angka CPI sesuai prediksi, tekanan inflasi masih di atas target 2%, sehingga pasar memperhitungkan kemungkinan kebijakan yang tidak terlalu agresif dalam beberapa waktu ke depan.
Pasar menilai bahwa kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Fed pada pertemuan mendatang rendah, meski peluang pemotongan pada Juni tetap ada meskipun tidak terlalu besar. Data pasar menunjukkan probabilitas pemotongan sekitar 36,2% di Juni, meningkat menjadi 51,3% di Juli, mencerminkan kehati-hatian para pelaku pasar terhadap jalur kebijakan AS.
Di sisi lain, gejolak geopolitik terkait konflik antara AS dan Iran menambah kekhawatiran atas prospek kebijakan moneter global, khususnya karena dampaknya terhadap harga minyak. Lonjakan harga minyak berpotensi memperburuk tekanan inflasi di negara maju dan mempengaruhi keputusan bank sentral di berbagai wilayah, termasuk zona euro.
Beberapa pejabat ECB menyatakan kesiapan untuk bertindak jika diperlukan. Perkataan seperti garis besar dari de Guindos dan Kažimář menegaskan bahwa risiko harga ke atas tetap menjadi faktor utama, di samping faktor pertumbuhan yang lebih lemah di kawasan euro. Pasar akan menakar sinyal kebijakan ECB berdasarkan jalur inflasi dan pertumbuhan di masa mendatang.
Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran mendorong harga minyak mentah lebih tinggi, yang kemudian meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Karena Eropa sangat bergantung pada impor energi, kenaikan harga minyak berpotensi menambah beban biaya dan memukul prospek pertumbuhan di kawasan ini.
Lonjakan harga minyak juga menambah ketidakpastian kebijakan moneter di tingkat global, karena bank sentral harus mempertimbangkan dampak inflasi terhadap laju ekonomi. Pedagang cermat memantau pergerakan minyak sambil menilai risiko bagi euro terhadap dinamika kebijakan di Fed maupun ECB.
Dengan EUR/USD berada sekitar 1,1587 pada saat penutupan penulisan, arahnya cenderung turun jika dolar tetap kuat dan gangguan geopolitik berlanjut. Dari sisi teknikal, sinyal pasar saat ini mengarah pada potensi tekanan jual terhadap pasangan ini, meskipun volatilitas jangka pendek tetap tinggi karena pembaruan data inflasi dan kebijakan bank sentral yang saling terkait.