
EURUSD berada di sekitar 1.1385 pada sesi Eropa dini hari Jumat, menandai pergerakan yang didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga ECB di masa depan. Bank sentral Eropa mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juli namun membuka pintu bagi langkah pengetatan lebih lanjut pada September. Langkah ini memberi dukungan terhadap euro di jangka pendek, meskipun dinamika geopolitik dan faktor energi tetap menjadi risiko bagi pasangan ini. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.
Pendatang PMI Juli untuk zona euro, Jerman, dan AS menjadi sorotan pasar hari ini. Angka PMI yang lebih kuat dari zona euro dapat memperkuat kasus kenaikan suku bunga ECB, sementara PMI AS akan membentuk arah sentimen risiko global. Analis menilai bahwa angka-angka tersebut bisa mengubah jalur kebijakan pasar. Ketidakpastian di sektor tenaga kerja dan dinamika harga energi juga membatasi pergerakan EURUSD.
ECB menegaskan inflasi tetap di atas target hingga paruh pertama 2027, sehingga jalur pengetatan bisa tetap agresif. Para pejabat terkait juga waspada terhadap potensi kejutan inflasi akibat konflik antara AS dan Iran serta dampak dari harga energi. Pasar menilai peluang kenaikan 25 basis poin pada September hingga Desember setidaknya satu kali atau lebih, meskipun risiko geopolitik menambah volatilitas. Analisis MUFG menunjukkan yield jangka pendek Eropa naik lebih cepat dibanding AS, sehingga spread imbal hasil bergerak mendukung euro.
Kebijakan ECB yang hawkish telah mendorong minat terhadap euro di pasar valuta asing. Pasar memandang dua hingga tiga kenaikan suku bunga ECB di sisa tahun ini sebagai kemungkinan nyata. Imbal hasil jangka pendek di Eropa naik lebih cepat dibanding AS, memperketat perbedaan imbal hasil dan memberikan dukungan bagi euro.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkatkan permintaan terhadap dolar sebagai aset safe-haven, menambah volatilitas pada EURUSD. Sisi risiko global dapat membatasi penguatan euro jika kekhawatiran geopolitik meningkat secara signifikan. Investor juga memantau faktor-faktor lain seperti pergerakan harga energi yang berpotensi memicu perubahan arus modal.
Analisis MUFG menunjukkan bahwa re-pricing yield global dipicu oleh kenaikan harga energi, dengan ekspektasi hawkish terhadap ECB dan Fed. Mereka mencatat bahwa pasar memperkirakan dua hingga tiga kenaikan ECB serta sekitar dua kenaikan Fed, dengan imbal hasil jangka pendek Eropa naik lebih tajam. Perbandingan imbal hasil yang menguat di Eropa terhadap AS menekan USD terhadap EUR, menambah potensi EURUSD untuk tetap menguat jika data ekonomi mendukung.