Data CPI AS untuk Maret diperkirakan naik sekitar 3,3% secara tahunan. Lonjakan ini didorong oleh pergerakan harga energi yang lebih tinggi, sedangkan dinamika tenaga kerja menunjukkan arah yang beragam. Banyak analis menilai minyak sebagai pendorong utama bulan ini yang memperkuat tekanan pada harga konsumen dan menambah kompleksitas terhadap kebijakan moneter.
Inti CPI, tanpa makanan dan energi, diperkirakan naik sekitar 2,7% secara tahunan dan 0,3% secara bulanan. Kenaikan inti menunjukkan bahwa tekanan inflasi inti tetap menjadi fokus meski volatilitas energi cukup tinggi. Pasar menantikan catatan dari BLS yang dapat mempengaruhi pandangan terkait laju kebijakan ke depan.
Dalam kerangka teknikal, EURUSD terlihat memiliki bias bullish jangka pendek. RSI pada grafik harian berada di atas 50, dan pasangan berhasil melewati tren turun dua bulan. Level 1.1730 terdekat berfungsi sebagai rintangan, dengan potensi target lanjutan di 1.1800 dan 1.1900 jika momentum berlanjut.
Sejak eskalasi di Timur Tengah, harga minyak mentah WTI melonjak sekitar 40 persen. Pergerakan ini memberi sinyal kuat pada inflasi dan menambah tekanan pada biaya energi bagi konsumen dan perusahaan. Meski ada jeda ketika ada laporan tentang gencatan senjata, prospek minyak tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik.
Analisis pasar memperkirakan CPI bulan Maret bisa menunjukkan laju bulanan mendekati 0,9 persen, membawa laju tahunan mendekati 3,3 persen. Sementara itu, inflasi inti diindikasikan naik sekitar 0,3 persen pada bulan itu, menunjukkan ketahanan inti terhadap gejolak energi.
Isu-isu risiko, termasuk kelanjutan konflik dan potensi gangguan aliran melalui Selat Hormuz, membuat volatilitas tetap tinggi. Investor menilai bahwa dinamika minyak akan membentuk lintasan inflasi lebih dari angka CPI itu sendiri. Fokus utama pasar adalah bagaimana minyak mempengaruhi ekspektasi inflasi secara keseluruhan.
Minutes rapat Federal Reserve pada Maret menunjukkan sejumlah pejabat berhati-hati terhadap pemangkasan suku bunga. Ada pandangan bahwa inflasi bisa lebih tahan lama daripada perkiraan jika tekanan harga tetap tinggi. Kebijakan yang cermat tetap diperlukan mengingat sinyal dari pasar tenaga kerja yang bervariasi.
Beberapa analis berpendapat bahwa Fed bisa menahan suku bunga jika inflasi inti tetap terkendali meski minyak melonjak. Namun risiko inflasi lebih tinggi dapat mendorong kebijakan netral atau kehati-hatian yang lebih besar dari bank sentral. Pasar akan menilai pernyataan pejabat dan petunjuk kebijakan pada laporan mendatang.
Terakhir, arah EURUSD akan sangat dipengaruhi oleh evolusi minyak dan ekspektasi kebijakan moneter. Jika minyak turun secara bertahap, pasangan ini berpotensi melanjutkan rebound. Sebaliknya, minyak yang tetap tinggi bisa menjaga tekanan pada dolar dan membatasi kenaikan EURUSD.