Menurut Philip Wee dari DBS Group Research, Brent crude bergerak dalam kisaran USD 100-120 per barel pada kuartal pertama 2026, sementara Indeks Dolar AS (DXY) tetap berada di zona 96-101 yang menjadi patokan sejak pertengahan 2025. Penilaian ini menyoroti bahwa volatilitas minyak tidak secara otomatis mendorong dolar untuk melonjak, meski harga minyak meningkat. Laporan ini diramu untuk pembaca awam dengan bahasa yang lebih jelas dan dipersepsikan melalui lensa Cetro Trading Insight.
Mengapa dolar tidak ikut melonjak meski Brent melejit? Alasannya melibatkan tiga faktor utama: kebijakan Federal Reserve yang tidak terlalu mendesak untuk mengejar inflasi, kebijakan yang lebih ketat terhadap inflasi sebagai respons permintaan, serta menurunnya minat terhadap apa yang disebut 'Trump Trade'. Dampak gabungan ini membuat DXY cenderung membatasi diri di wilayah 96-101, dan tidak terburu-buru menembus level 100 meskipun ada lonjakan minyak.
Studi ini menekankan bahwa dolar tidak sedang naik karena oil shock memberikan haven yang tidak sekuat masa lalu. Dalam konteks kebijakan moneter, The Fed menahan diri dan mengambil sikap wait-and-see terhadap suku bunga. Analisis ini disusun dengan dukungan data dan kajian di Cetro Trading Insight.
Berbeda dengan periode sebelumnya, Federal Reserve tidak memiliki urgensi untuk mengejar inflasi yang dipicu oleh permintaan. Momentum inflasi terlihat menurun dan tidak sejalan dengan reformasi kebijakan yang agresif. Karena itu, kebijakan moneter cenderung lebih berhati-hati dan tidak mendesak DXY untuk menembus batas atas.
Kebijakan moneter tetap pada sikap menunggu (wait-and-see) dengan respons yang lebih hati-hati terhadap data inflasi. Pasar telah menilai bahwa jika inflasi tetap berada pada bias turun, DXY tidak akan memantapkan pergerakan di atas 100 untuk jangka pendek. Kondisi ini menambah alur bahwa pergerakan dolar pada saat ini lebih dipengaruhi dinamika permintaan global daripada ekspektasi agresi kebijakan.
Kontrasnya, pada 2022 pasar mengalami migrasi besar akibat tekanan inflasi dan respons kebijakan yang lebih cepat. Situasi saat ini menandai perubahan sikap kebijakan, dengan kebijakan Fed yang lebih berhati-hati dan fokus pada stabilisasi permintaan. Dengan demikian, peluang pergerakan signifikan pada DXY tergantung pada perubahan data inflasi dan risiko fiskal yang lebih luas.
Untuk pasar minyak Brent, lonjakan ke kisaran 100-120 dolar belum memicu perubahan besar pada sintesis dolar, meski volatilitas tetap tinggi. Pasar saat ini menilai bahwa input produksi dan permintaan global lebih dinamis, namun DXY tetap terpaut pada kisaran moderat. Laporan ini menyoroti bahwa volatilitas energi bisa mendorong peluang trading bagi pelaku pasar yang pandai membaca volatilitas tanpa mengandung ekspektasi breakout besar.
Bagi trader, lingkungan seperti ini cenderung membatasi peluang breakout dan mendorong strategi trading berbasis kisaran. Pengaturan risiko menjadi kunci karena volatilitas Brent bisa berubah dengan rumor data makro, sementara DXY juga bisa merespons perubahan kebijakan moneter secara berbeda. Sinyal trading dari artikel ini lebih condong ke netral, karena tidak ada konfirmasi arah yang kuat.
Kesimpulan: tanpa sinyal jelas dari pembuat kebijakan, prospek jangka pendek masih bergantung pada data inflasi, kebijakan Fed, dan dinamika permintaan minyak. Cetro Trading Insight menyarankan investor untuk menjaga fokus pada kisaran 96-101 untuk DXY dan kisaran 100-120 untuk Brent, sambil menyiapkan rencana manajemen risiko. Secara umum, rekomendasi tetap netral dengan risiko-reward minimal 1:1.5 jika terjadi pergeseran signifikan.