Dalam wawancara dengan Fox Business pada hari Kamis, Gubernur Federal Reserve Stephen Miran menyatakan bahwa ia belum melihat hal yang mengkhawatirkan pada kredit swasta meskipun ada beberapa hambatan. Ia menegaskan bahwa harga-harga saat ini tampak stabil dan ini ia lihat sebagai tanda bahwa kondisi finansial sedang berjalan dengan cukup tenang. Cetro Trading Insight mencatat bahwa pernyataan ini menekankan perhatian pada stabilitas likuiditas dan dinamika regulasi perbankan yang berdampak pada pembiayaan korporasi.
Miran menyoroti bahwa sektor perbankan terlalu diatur, yang menurutnya dapat menghambat penciptaan kredit. Ia mengakui adanya beberapa gangguan, namun menilai bahwa inti risiko kredit swasta tetap terjaga meski ada hambatan-hambatan. Dari sisi analisis kami, regulasi yang terlalu ketat berpotensi menekan ekspansi pinjaman bagi perusahaan dengan profil kredit menengah.
Bagi para pelaku pasar, pernyataan ini berarti tingkat volatilitas kredit swasta kemungkinan masih rendah meski pengamatan terhadap dinamika kebijakan perlu terus dilakukan. Meski data tenaga kerja belakangan menunjukkan tren yang lebih baik, kata Miran, belum waktunya menegaskan pemulihan penuh. Investor perlu menilai bagaimana kebijakan moneter berikutnya akan mempengaruhi biaya pinjaman dan likuiditas di pasar finansial secara luas.
Data tenaga kerja Amerika belakangan ini menunjukkan daya tahan yang relatif kuat, meskipun arahnya masih berada pada tahap evaluasi bagi banyak analis. Beberapa indikator menunjukkan perbaikan, namun volatilitas dan ketidakpastian tetap ada. Dalam konteks ini, para pelaku pasar menilai apakah tren ini cukup untuk menimbang prospek ekonomi ke depan.
Miran menegaskan bahwa ia tidak percaya Amerika Serikat saat ini menghadapi masalah inflasi. Ia menyoroti bahwa tekanan harga tampak terkendali secara umum meski ada variasi pada komoditas pangan dan layanan. Menurut analisis kami, kestabilan harga saat ini mendukung skema kebijakan yang lebih hati-hati dalam jangka pendek.
Di bawah asumsi bahwa pasar tenaga kerja membaik tanpa tekanan inflasi yang kuat, perspektif disinflasi tetap menonjol, meski signifikansi dampaknya bergantung pada dinamika teknologi dan permintaan tenaga kerja. Ia menekankan bahwa inovasi dan produktivitas akan menjadi faktor kunci dalam mendorong output tanpa memicu tekanan harga yang melampaui target. Para pembaca disarankan menyimak indikator inflasi inti dan laju upah untuk memetakan bagaimana kebijakan moneter bisa berubah.
AI diproyeksikan menjadi faktor utama yang sangat disinflasioner, meningkatkan produktivitas dan menekan biaya produksi secara luas. Para analis menilai bahwa inovasi tersebut bisa menggeser kurva biaya ke bawah tanpa menunda pertumbuhan. Dalam konteks ini, ketahanan harga materi dan jasa menjadi aspek penting untuk pemantauan pasar.
Menurut Miran, Fed perlu mempertimbangkan pemotongan suku bunga sebesar satu poin persentase pada tahun ini, yang direalisasikan melalui empat langkah 25 basis poin. Penilaian tersebut menekankan bahwa langkah yang lebih cepat dapat memperkuat momentum pemulihan sambil menjaga inflasi pada jalurnya. Pelaku pasar sebaiknya menyimak bagaimana sinyal dari kebijakan ini akan berdampak pada ekspektasi yield dan biaya pinjaman jangka pendek.
Di sisi lain, ia menuturkan optimisme tentang pekerjaan baru sebagai potensi efek samping positif AI meski ada kekhawatiran bahwa teknologi tersebut bisa menggusur beberapa pekerjaan. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa dinamika tenaga kerja bisa berubah seiring waktu seiring adopsi luas AI. Dari sisi kebijakan, pandangan ini mengindikasikan perlunya keseimbangan antara fokus pada disinflasi, pertumbuhan, dan stabilitas pasar tenaga kerja.