Free Float 15% BEI Dorong Re-rating Saham Indonesia: Analis Bahana Ungkap Peluang Emiten Besar dan Indeks

Free Float 15% BEI Dorong Re-rating Saham Indonesia: Analis Bahana Ungkap Peluang Emiten Besar dan Indeks

trading sekarang

Kebijakan baru Bursa Efek Indonesia mengenai kewajiban free float minimum 15 persen akan diterapkan secara bertahap hingga 2029. Kebijakan ini dipandang sebagai mesin utama yang bisa mendorong re-rating valuasi saham di pasar domestik dalam beberapa tahun ke depan. Di balik laporan ini, pembaca Cetro Trading Insight, platform berita dan analisis pasar milik Cetro, diajak memahami bagaimana perubahan tata kelola ini memengaruhi harga saham dan dinamika likuiditas secara nyata.

Analis Bahana Sekuritas, Raja Abdalla, menjelaskan bahwa aturan baru membuka peluang investasi berbasis peristiwa (event-driven). Emiten dengan kepemilikan publik rendah adalah sasaran utama karena dua jalur akan tersedia: menambah free float melalui penerbitan saham baru atau memilih opsi delisting jika tetap mempertahankan pencatatan. Kedua pilihan tersebut dipandang membawa dampak positif pada valuasi saham, meskipun mekanismenya berbeda.

Riset Bahana, tertanggal 11 Mei 2026, memetakan dampak kebijakan ini terhadap sekitar 284 emiten dengan kapitalisasi pasar gabungan sekitar Rp3.826 triliun, atau sekitar 30 persen IHSG. Kelompok terdampak terbesar adalah saham berkapitalisasi besar dengan free float di bawah 12,5 persen, yang harus memenuhi target 12,5 persen paling lambat Maret 2027 dan naik menjadi 15 persen pada Maret 2028. Secara keseluruhan, kebijakan ini diprediksi meningkatkan likuiditas dan memperbaiki peluang saham masuk ke indeks serta menarik minat investor institusional.

Katalis utama bagi investor adalah peluang masuknya emiten ke indeks LQ45. Indeks tersebut saat ini mensyaratkan free float minimum 10 persen, dan ketika aturan baru diterapkan penuh, saham yang sebelumnya gagal memenuhi syarat berpotensi masuk kembali dan mendapatkan akses ke arus dana institusional yang lebih besar.

Dampak positif pada likuiditas dan valuasi juga bisa terlihat jika emiten melakukan rights issue, private placement, atau controlled block sales. Menurut Raja Abdalla, peningkatan porsi saham publik secara efektif meningkatkan likuiditas, memperbaiki tata kelola, dan berpotensi mendorong valuasi saham mengikuti pola kenaikan yang historis terkait peningkatan porsi publik.

Beberapa kandidat utama yang disebut Bahana adalah BRIS dan PGEO sebagai penerima manfaat ekspansi free float, sementara NCKL dan TBIG juga dipantau karena ruang ekspansi yang relatif besar dan dinamika industri. BRIS diproyeksikan tumbuh dari penguatan layanan perbankan syariah, PGEO didorong ekspansi kapasitas panas bumi, sedangkan NCKL dan TBIG menjadi fokus karena peluang perubahan kepemilikan yang berdampak pada likuiditas.

Risiko, Tantangan, dan Arah Kebijakan

Namun peluang ini tidak tanpa risiko. Relaksasi tenggat waktu oleh OJK dapat memperlambat kepatuhan dan mempengaruhi rencana emiten yang sedang menarik minat publik.

Juga ada risiko banjir suplai saham menjelang batas kepatuhan, yang berpotensi menekan harga penawaran jika suplai tidak terserap pasar secara memadai. Investor perlu mencermati dinamika pasar modal yang lebih terbuka sambil menimbang volatilitas jangka pendek.

Analisis Bahana menekankan pentingnya mengamati sinyal privatisasi seperti perubahan kinerja, peningkatan treasury stock, atau perubahan kebijakan dividen sebagai indikator arah kepemilikan. Secara keseluruhan, peningkatan free float dipandang bisa menarik arus dana, terutama investor domestik, meskipun risiko likuiditas dan timing perlu diperhitungkan secara cermat.

banner footer