Ingâs Francesco Pesole dari ING menegaskan bahwa meskipun konflik Teluk bisa sangat sengit dan berkepanjangan, harga gas Eropa diperkirakan tidak akan kembali ke puncak level 2022. Temuan ini mendasari pandangan jangka menengah yang lebih konstruktif terhadap EUR/USD karena biaya energi yang lebih terkontrol berpotensi membatasi dampak negatif pada ekonomi zona euro. Interpretasi ini juga menekankan bahwa jalur harga energi memegang peran utama dalam penilaian nilai tukar lintas waktu.
Namun, risiko jangka pendek tetap ada, terutama menjelang pertemuan bank sentral dan kilatnya beragam berita terkait Gulf. EUR/USD berpotensi melemah ke sekitar satu nilai psikologis utama sebelum mencoba rebound seiring mata uang euro menyesuaikan diri dengan dinamika kebijakan moneter dan harga gas yang masih volatile. Ketidakpastian ini menjadi pijakan untuk kehati-hatian dalam posisi jangka pendek bagi pelaku pasar.
Penilaian risiko harga gas yang membatasi tekanan pada euro diterjemahkan sebagai dukungan terhadap penilaian fair value euro. Laju baseline memprediksi konflik berat berakhir dalam dua pekan, meskipun serangan berintensitas lebih rendah bisa berlanjut berbulan-bulan dan menunda pembukaan Hormuz. Dalam skenario ini, Brent diperkirakan rata-rata $91/barel pada 2Q dan $85/barel pada 3Q, memberikan kerangka harga energi yang lebih stabil bagi euro dalam jangka menengah.
Analisis skenario terbaru menunjukkan bahwa harga gas kemungkinan tetap tinggi hanya dalam konflik yang berat dan berkepanjangan. Meski demikian, volatilitasnya dalam skenario 2022 tetap berada di luar bayangan akibat krisis Teluk saat ini, sehingga dampak langsung terhadap EUR/USD lebih terukur. Penegasan ini menekankan bahwa pergerakan pasangan ini lebih banyak dipengaruhi perubahan harga energi dibanding kejutan teknikal jangka pendek.
Inti dari analisa ini adalah bahwa gas yang tetap relatif terkendali menambah ruang bagi euro untuk mempertahankan performa terhormat terhadap dolar AS. Dengan asumsi gas tidak lagi melonjak tajam, dampak terhadap terms of trade zona euro dapat ditekan, yang secara teoretis mendukung tren EUR/USD yang lebih stabil menuju akhir tahun. Kondisi ini membantu membangun fondasi untuk pandangan positif jangka menengah terhadap pasangan mata uang tersebut.
Di sisi lain, risiko jangka pendek tetap berarti. Rapat-rapat kebijakan bank sentral, seperti Fed dan ECB, memperbesar probabilitas volatilitas di pasar FX. Jika berita mengenai gencatan senjata atau koordinasi NATO terkait Hormuz muncul, EUR/USD bisa turun di bawah level 1.1450 sebelum mencoba pulih. Ketidakpastian tersebut menuntut kehati-hatian bagi trader yang menargetkan pergerakan signifikan dalam waktu dekat.