Cetro Trading Insight melaporkan bahwa pasar saham Indonesia meluncur ke arah baru dengan dorongan likuiditas dan optimisme investor. Pada perdagangan Selasa 17 Maret 2026, IHSG ditutup menguat 1,20 persen di level 7.106, sementara nilai transaksi mencapai Rp24,54 triliun. Kekuatan beli terlihat semakin menonjol pada saham-saham unggulan yang menjadi motor pergerakan hari ini.
Deretan saham top gainer dipimpin ROCK naik 24,82% menjadi Rp3.520 per saham, diikuti JSPT dengan lonjakan 24,70% ke Rp1.565. Gerak tajam kedua emiten tersebut mencerminkan minat investor terhadap paparan sektor properti dan terkait infrastruktur.
Selanjutnya, LAPD melonjak 19,48% menjadi Rp92, ESTA 16,03% di Rp152, dan EXCL menyusul 15,62% ke Rp2.960, menunjukkan adanya rotasi positif di beberapa sektor. Data ini menjadi sinyal hangat bagi pemodal untuk menimbang peluang entry pada saham-saham pilihan.
Di sisi lain, pasar juga membawa dinamika berbalik dengan daftar 10 saham top loser yang ditutup lebih rendah. PSDN, FITT, POLA, BESS, NZIA, ALKA, ZATA, RLCO, KAQI, dan KUAS ditutup melemah antara 12,05% hingga 14,97%, mencerminkan volatilitas yang lebih tinggi di tengah likuiditas pasar.
Koreksi ini menambah dinamika volatilitas hari perdagangan, mencerminkan sentimen terkait sektor-sektor tertentu dan perubahan minat investor terhadap saham berkapitalisasi lebih kecil.
Investor disarankan melakukan evaluasi risiko, memperhatikan level cut loss, dan memperkuat diversifikasi portofolio untuk menghadapi gelombang volatilitas berikutnya.
Top value hari ini ditandai oleh EMAS Merdeka Gold Resources Tbk, memimpin arus transaksi dengan nilai sekitar Rp1,97 triliun. Disusul Bank Mandiri BMRI Rp1,30 triliun, Bumi Resources Mineral BRMS Rp1,11 triliun, dan BBCA Rp1,09 triliun, menunjukkan fokus investor terhadap emiten berkapitalisasi besar.
Kegiatan perdagangan di EMAS menarik perhatian karena adanya peluang nilai bagi investor ritel maupun institusional, sejalan dengan dinamika harga komoditas dan prospek produksi emas yang sensitif terhadap harga logam mulia.
Dinamika ini menandai perlunya monitor terhadap kinerja emiten berkapitalisasi besar sambil tetap waspada terhadap volatilitas pasar dan perubahan likuiditas sepanjang sesi perdagangan berikutnya.