GBP/USD tetap stabil di tengah kehati-hatian para trader menjelang rilis data pasar tenaga kerja Inggris. Data ILO menunjukkan bahwa pengangguran diperkirakan turun menjadi 5 persen, sementara pertumbuhan pendapatan rata-rata termasuk bonus diperkirakan melambat menjadi 4,6 persen. Kondisi ini menambah fokus pasar pada bagaimana data tersebut bisa mempengaruhi persepsi inflasi dan arah kebijakan moneter di masa mendatang.
Nilai tukar bergerak tipis sekitar 1,3430 dalam sesi Asia, karena pelaku pasar menahan diri menjelang data IHK Inggris dan penjualan ritel bulan Desember. Pasar menantikan data tersebut untuk mengukur kekuatan konsumsi rumah tangga serta tekanan inflasi yang akan membayangi langkah Bank of England. Ketidakpastian terkait prospek suku bunga membuat volatilitas menurun sementara arah pergerakan GBP tetap bergantung pada data ekonomi ritel dan harga konsumen.
Sikap investor terhadap dolar AS tertekan oleh meningkatnya ketidakpastian terkait isu Greenland, yang berisiko mengubah sentimen risiko secara umum. Jika data Inggris datang lebih baik dari ekspektasi, GBP berpotensi menguat terhadap USD karena pergeseran peluang kebijakan moneter Bank of England. Pasar juga akan menilai dampak dari dinamika geopolitik serta pergerakan imbal hasil obligasi global sebagai faktor penggerak utama.
Presiden AS mengumumkan tarif 10 persen atas barang dari delapan negara Eropa, mulai berlaku 1 Februari sehubungan dengan isu Greenland. Negara yang terdampak mencakup Denmark, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, Inggris, dan Norwegia, sementara UE menilai respons yang tepat. Langkah ini menambah ketidakpastian perdagangan dan berpotensi memperkuat tekanan pada dolar AS jika investor melihatnya sebagai risiko ekonomi yang berkelanjutan.
Para duta besar Uni Eropa sepakat meningkatkan upaya untuk mencegah penerapan tarif tersebut sambil menyiapkan langkah balasan jika bea dikenakan. Respons Brussels mencerminkan kepedulian atas dampak ekonomi terhadap anggotanya serta upaya menjaga aliran perdagangan. Sementara itu, para analis mengevaluasi bagaimana eskalasi tarif bisa memicu rebalancing mata uang dan volatilitas pasar keuangan.
Di sisi kebijakan moneter, para pejabat The Fed menunjukkan urgensi yang terbatas untuk melonggarkan kebijakan lebih lanjut tanpa bukti jelas bahwa inflasi bergerak menuju target 2 persen. Beberapa bank investasi, termasuk Morgan Stanley, telah merevisi prospek suku bunga untuk 2026 menjadi penurunan pada Juni yang diikuti September, alih-alih ekspektasi awal untuk Januari dan April. Revisi ini menambah ketidakpastian bagi pelaku pasar mengenai arah dolar dan imbal hasil jangka menengah.
Secara teknis, GBPUSD diperdagangkan sekitar 1,3430 dengan risiko dan peluang tersusun pada level teknikal saat ini. Support utama terletak di sekitar 1,3370, sementara resistance terdekat berada di sekitar 1,3520. Pergerakan berikutnya akan sangat dipengaruhi oleh data UK serta reaksi pasar terhadap perkembangan kebijakan moneter global.
Rekomendasi perdagangan didasarkan pada peluang fundamental dan dinamika pasar. Posisi beli pada GBPUSD di sekitar 1,3430 bisa mencapai target sekitar 1,3520 jika sentimen tetap mendukung pound. Stop loss sebaiknya ditempatkan di sekitar 1,3370 untuk menjaga rasio risiko terhadap imbalan minimal 1:1,5, yang sesuai dengan kerangka analisis.
Inti dari strategi ini adalah menilai respons terhadap rilis data Inggris dan arah dolar AS. Jika data mengecewakan bagi dolar atau jika kebijakan moneter BoE lebih hawkish daripada ekspektasi, peluang kenaikan lebih lanjut dapat muncul. Namun investor juga perlu mewaspadai berita geopolitik dan perubahan kebijakan yang bisa membalik sentimen pasar dengan cepat.