Harga Minyak Anjlok Setelah Ketegangan Geopolitik Global; OPEC+ Diperkirakan Modalkan Produksi di Juli

Harga Minyak Anjlok Setelah Ketegangan Geopolitik Global; OPEC+ Diperkirakan Modalkan Produksi di Juli

trading sekarang

Ketegangan geopolitik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran telah menambah ketidakpastian pada pasar minyak global. Pasar menunjukkan volatilitas yang tinggi sepanjang hari, dan akhirnya menutup dengan penurunan sekitar dua persen. Respons investor nampak terpecah antara harapan relokasi damai dan kekhawatiran gangguan pasokan yang berkelanjutan. Dinamika tersebut menempatkan minyak di posisi rapuh, meski ada beberapa sinyal dukungan dari dinamika regional, menurut kajian internal Cetro Trading Insight.

Brent ditutup di USD102,58 per barel, turun 2,3 persen, sedangkan WTI ditutup di USD96,35 per barel, turun 1,9 persen; keduanya tercatat di level terendah dalam hampir dua pekan. Sesi perdagangan sempat melonjak hingga 4 persen setelah Reuters melaporkan arahan dari pemimpin Iran, namun akhirnya berbalik melemah menutup hari. Pergerakan intraday menunjukkan bahwa sentimen pasar masih sangat sensitif terhadap berita diplomatik terbaru.

Laporan Reuters mengutip dua sumber Iran yang menyatakan Ayatollah Khamenei memperkeras sikap terhadap satu tuntutan utama AS, meningkatkan risiko mandeknya negosiasi. Pergolakan ini mempertemukan wacana diplomatik dengan dinamika pasokan global yang tetap sensitif terhadap eskalasi regional. Analisis ini disusun oleh Cetro Trading Insight, yang menyoroti dampak geopolitik terhadap harga minyak dan potensi pergerakan jangka menengah di pasar energi.

Aktivitas ekonomi di zona euro turun pada laju tercepat dalam lebih dari dua setengah tahun pada Mei, akibat lonjakan biaya hidup yang dipicu oleh konflik berkepanjangan. Layanan permintaan menurun ketika perusahaan mempercepat pemutusan hubungan kerja, mencerminkan dampak inflasi pada aktivitas bisnis. Kondisi ini menambah beban bagi permintaan minyak secara global, meski volatilitas harga tetap terjaga oleh dinamika pasokan.

Beberapa bank analis menilai bahwa volatilitas pasar energi akan berlanjut, dengan ING memperkirakan rata-rata harga Brent sekitar USD104 per barel untuk kuartal ini. Proyeksi ini mencerminkan ekspektasi pasokan global yang relatif ketat sekaligus risiko permintaan yang meningkat karena pertumbuhan ekonomi yang lambat. Para pelaku pasar tetap waspada terhadap tekanan geopolitik yang bisa menggeser baseline harga dalam beberapa bulan ke depan.

Sementara itu, UBS juga meningkatkan proyeksi harga minyak dengan asumsi perubahan pasokan dan permintaan yang dinamis; UBS memperkirakan Brent di sekitar USD105 per barel dan WTI di USD97 per barel pada September mendatang. Peningkatan prediksi ini menunjukkan bahwa para analis melihat ruang bagi harga minyak untuk bergerak lebih tinggi jika ketegangan geopolitik berlanjut. Di saat yang sama, para pelaku pasar menilai risiko supply disruption tetap ada dan bisa memicu pergerakan jangka menengah yang volatile.

Sejumlah produsen utama OPEC+ diperkirakan akan menyepakati kenaikan produksi moderat pada Juli dalam pertemuan 7 Juni, menurut laporan yang mengutip empat sumber. Langkah ini dinilai sebagai respons terhadap tren harga yang bergejolak dan upaya menjaga pasokan global tetap seimbang. Meski demikian, ketegangan di Hormuz dan kendali atas jalur pengiriman masih menjadi faktor risiko utama bagi harga minyak ke depan.

Iran telah mengumumkan langkah-langkah yang memperkuat kendalinya atas Selat Hormuz, dengan ancaman terhadap serangan lanjutan jika provokasi berulang. Selat Hormuz tetap menjadi jalur pengiriman energi utama meski sebagian besar tertutup saat ini, dan secara historis menyuplai sekitar 20 persen konsumsi global sebelum konflik meningkat. Pergerakan di jalur ini kerap menjadi penentu volatilitas harga minyak global.

Secara keseluruhan, meskipun ada potensi kenaikan produksi oleh OPEC+, faktor geopolitik tetap menjaga risiko pasokan. Pasar minyak cenderung bergerak dalam kisaran dengan risiko breakout jika terjadi eskalasi lebih lanjut. Untuk pelaku pasar, manajemen risiko yang cermat dan pemantauan berita diplomatik tetap diperlukan dalam beberapa bulan mendatang.

banner footer