Harga Minyak Brent Melemah Namun Tetap Dekat Level Tertinggi 6 Bulan Menjelang Negosiasi Iran-AS

Harga Minyak Brent Melemah Namun Tetap Dekat Level Tertinggi 6 Bulan Menjelang Negosiasi Iran-AS

trading sekarang

Harga minyak bergejolak menarikan spekulasi global: meski ada pelemahan tipis, Brent bertahan di level tinggi enam bulan dan para trader siap menghadapi volatilitas. Dalam perdagangan kemarin Brent ditutup turun 0,38% ke USD 71,49 per barel, sementara WTI turun 0,26% ke USD 66,31 per barel. Pasar terus menyerap dinamika geopolitik yang bisa mengubah arah pasokan di masa mendatang.

Cetro Trading Insight menilai pasar sedang menimbang peluang pembicaraan antara AS dan Iran. Ketegangan geopolitik berpotensi memicu lonjakan harga jika Iran memberi konsesi yang dapat membuka penghapusan sanksi, meski risiko konfrontasi tetap tinggi. Para analis menekankan bahwa hari-hari mendatang akan sangat menentukan arah pasar energi dan portofolio investor.

Ketidakpastian ini menuntut kehati-hatian karena rilis data ekonomi dan perkembangan diplomasi bisa mengubah tren secara cepat. Analis menyoroti bahwa volatilitas bisa memberi peluang bagi trader yang mengelola risiko dengan disiplin, asalkan manajemen eksposur dilakukan dengan cermat. Secara umum, letak harga Brent dan WTI tergantung pada dinamika negosiasi dan bagaimana pasar menilai risiko konflik serta potensi pembatalan sanksi.

Putusan Mahkamah Agung AS pekan lalu membatalkan bagian penting dari rencana tarif, menambah ketidakpastian bagi investor dan pelaku usaha di berbagai sektor. Kebijakan ini menekan sentimen pasar saham dan berimbas pada harga minyak yang sensitif terhadap berita kebijakan. Analis menilai bahwa dinamika harga minyak akan sangat dipengaruhkan oleh keputusan hukum dan fiskal yang berubah-ubah.

Badan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS menyatakan akan menghentikan pemungutan tarif berdasarkan International Emergency Economic Powers Act mulai pukul 12.01 WIB pada Selasa (24 Februari 2026). Kebijakan ini menambah spekulasi mengenai arah tarif dan dampaknya pada likuiditas pasar energi. Investor menilai bahwa perubahan ini bisa memberikan ruang bagi negosiasi lebih lanjut seputar sanksi terhadap Iran.

Di sisi lain, Presiden AS menyatakan akan menaikkan tarif impor secara bertahap hingga 15 persen, batas maksimum yang diizinkan undang-undang, meski ada peluang peninjauan kembali. Hal ini menambah ketidakpastian bagi pelaku usaha dan pelaku pasar. Para analis menyoroti bahwa fokus pasar tetap pada negosiasi Iran sampai ada langkah kebijakan yang lebih jelas, menjaga volatilitas tetap tinggi.

broker terbaik indonesia