
Harga minyak global melaju ke puncak empat tahun sebelum koreksi tajam, sebuah gambaran nyata volatilitas yang dikepalai oleh ketegangan geopolitik. Pasar khawatir atas potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah jika eskalasi antara AS dan Iran berlanjut. Ketidakpastian geopolitik seperti ini membuat investor menimbang risiko permintaan serta dinamika persediaan global. Cetro Trading Insight memantau pergerakan pasar secara cermat untuk memberi gambaran yang lebih jelas bagi pembaca awam.
Perdagangan minyak pada Kamis menunjukkan volatilitas tinggi, dengan Brent mencapai puncak tertinggi dalam lebih dari dua tahun, kemudian melemah. Analis menekankan bahwa tidak ada pemicu fundamental tunggal yang menjelaskan penurunan tersebut; volatilitas lebih mencerminkan respons pasar terhadap risiko geopolitik yang meningkat. Banyak pelaku pasar menunggu perkembangan di Selat Hormuz dan dinamika negosiasi antara AS dan Iran untuk menilai arah harga selanjutnya.
Secara bulanan, kedua acuan minyak tetap berada pada jalur kenaikan bulanan keempat berturut-turut meski sesi koreksi. Hal ini menunjukkan bahwa pasar menilai risiko pasokan jangka panjang lebih besar daripada penurunan harga sesaat. Cetro Trading Insight menilai volatilitas tinggi bisa berlanjut sampai ada kejernihan berita geopolitik, sehingga investor perlu berhati-hati.
Brent sempat melonjak hingga USD126,41 per barel, level tertinggi sejak 9 Maret 2022, sebelum akhirnya ditutup turun. Pergerakan ini mencerminkan kekhawatiran terhadap kemungkinan gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah. Meski turun, kontrak Juni tetap berada di wilayah harga tinggi sementara kontrak Juli menunjukkan tren kenaikan, menandakan dinamika pasar yang tidak sepenuhnya mengarah pada penurunan mendasar.
WTI juga turun sekitar 1,69 persen ke USD105,07, setelah sempat menyentuh USD110,93, level tertinggi sejak 7 April. Perbaikan harga tidak menghapus fakta bahwa volatilitas tetap tinggi dan pasar menilai risiko geopolitik tetap ada. Analis menilai pergerakan harga sangat ekstrem, dengan likuiditas dan sentimen hedge funds berkontribusi pada fluktuasi.
Analisis menunjukkan bahwa pergerakan harga masih sangat ekstrem dan sulit diprediksi berdasarkan faktor fundamental tunggal. Banyak analis menyoroti bahwa reaksi berlebihan investor dapat memperpanjang volatilitas harian. Kondisi ini menekankan pentingnya pemantauan berita Timur Tengah dan kebijakan terkait selat Hormuz bagi pelaku pasar.
Penilaian fundamental menunjukkan pasokan minyak global tetap menjadi sumber risiko dengan potensi gangguan berkepanjangan di Timur Tengah. Hal ini mendukung kekhawatiran bahwa inflasi energi bisa kembali merangsek, terutama jika ketegangan meningkat dan jalur pasokan tersumbat. Cetro Trading Insight menekankan bahwa faktor geopolitik menjadi driver utama harga, meskipun permintaan global terlihat tetap stabil.
Beberapa analis mencatat investor melepas posisi untuk mengunci keuntungan menjelang akhir bulan, sebuah dinamika yang dapat memperbesar fluktuasi harian. Selain itu, pelemahan dolar AS pada hari itu turut menekan biaya impor minyak, memberi dukungan pada harga minyak meski sentimen tetap rapuh. Ketidakpastian mengenai kapan konflik bisa mereda membuat pandangan jangka menengah tetap rapuh.
Isu negosiasi atas program nuklir Iran dan kendali atas Selat Hormuz membentuk wajah pasar yang suram bagi pemulihan pasokan. Kendala diplomatik antara AS dan Iran meningkatkan risiko gangguan pasokan yang bisa berlangsung berbulan-bulan. Dalam konteks ini, fokus pasar beralih pada dampak terhadap inflasi global, harga konsumen, dan kebijakan energi negara-negara besar.