Harga minyak menguat selama tiga hari berturut-turut, dengan Brent di ICE mendekati US$64 per barel. Pergerakan ini dipicu oleh kekhawatiran atas gangguan pasokan yang lebih luas di beberapa wilayah utama. Analis menilai peluang tren meningkat dalam jangka pendek karena ketidakpastian geopolitik yang sedang berlangsung.
Analis komoditas memperhatikan dinamika Brent, khususnya timespread yang menunjukkan struktur pasar lebih bullish untuk bulan-bulan mendatang. Ketahanan harga juga didorong oleh penyesuaian pasokan yang diantisipasi seiring berbagai gangguan produksi. Para ahli mencatat bahwa pasar menilai risiko pasokan lebih besar daripada sebelumnya meskipun ada tanda-tanda stabilitas jangka pendek.
Ketegangan di Iran dan gangguan di Kazakhstan menjadi pendorong utama harga. Protes di Iran meningkat dan meningkatkan spekulasi mengenai potensi intervensi AS. Pasar juga mempertimbangkan bagaimana kebijakan perdagangan dan potensi tarif sekunder bisa mempengaruhi permintaan global, termasuk China sebagai pembeli utama minyak Iran.
Ketidakpastian geopolitik menambah tekanan pada harga minyak. Beberapa laporan menyebut adanya kemungkinan tindakan militer AS terkait Iran, meskipun rencana aksi formal belum jelas. Presiden AS sebelumnya menyatakan rencana mengenakan tarif 25% terhadap negara yang berbisnis dengan Iran.
Dinamika perdagangan antara AS dan China juga memengaruhi sentimen pasar. Meskipun terdapat gencatan perdagangan, investor menimbang bagaimana hambatan kebijakan bisa mengguncang pasokan minyak secara global. China tetap menjadi pembeli kunci minyak Iran, dan apakah tarif sekunder akan mengubah pola pembelian masih menjadi bahan evaluasi.
Para analis menekankan bahwa volatilitas harga bisa bertahan dalam beberapa minggu ke depan jika ketegangan geopolitik berlanjut. Namun, para pelaku pasar juga menilai bahwa permintaan global, terutama di Asia, dapat menahan penurunan pasokan secara jangka menengah. Dengan begitu, arah harga tetap bergantung pada dinamika kebijakan dan evaluasi risiko di berbagai wilayah.
Ekspor minyak Kazakhstan melalui terminal CPC diperkirakan menghadapi tekanan signifikan bulan ini. Kemungkinan gangguan pemeliharaan dan kerusakan akibat kejadian militer meningkatkan kekhawatiran terhadap volume pasokan. Para analis menilai bahwa faktor-faktor eksternal ini dapat menambah volatilitas harga minyak secara global.
Total pengiriman diperkirakan berada di rentang 800–900 ribu barel per hari, turun sekitar 45% dari ekspektasi awal. Penurunan ini terutama disebabkan oleh pekerjaan pemeliharaan yang lebih lama dari perkiraan, serta kerusakan yang diakibatkan serangan drone Ukraina dan efek cuaca buruk. Pasokan yang lebih rendah meningkatkan ketahanan harga Brent dalam jangka pendek.
Ketidakpastian operasional di rute ekspor Kazakhstan menambah tekanan pada pasar minyak. Jika gangguan berlanjut, pemantauan investor akan fokus pada pembaruan kinerja CPC dan cuaca musim dingin yang memperpanjang gangguan produksi. Secara keseluruhan, faktor pasokan tambahan memperkuat narasi bullish untuk harga minyak di fase mendatang.