Harga minyak sawit mentah (CPO) untuk kontrak Juni di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 1,36% menjadi 4.834 ringgit per ton hingga jeda siang. Pergerakan ini didorong oleh ketidakpastian seputar konflik Timur Tengah serta ekspektasi penurunan produksi pada Maret. Investor menilai dinamika pasokan dan permintaan masih rapuh karena prospek geopolitik yang belum jelas.
Analis Paramalingam Supramaniam dari Pelindung Bestari menjelaskan bahwa pasar minyak sawit masih berada dalam suasana ketidakpastian akibat negosiasi yang berlangsung antara Washington dan Teheran. Sinyal yang bertolak belakang membuat pelaku pasar belum yakin apakah konflik akan mereda atau justru meningkat. Kondisi ini menahan langkah banyak pelaku pasar untuk melakukan perubahan besar dalam alokasi perdagangan minyak nabati.
Di sisi pasokan, data produksi menunjukkan kenaikan yang tipis. Stok akhir Maret diperkirakan berada di kisaran 2 juta hingga 2,2 juta ton, level yang secara historis menopang pasar karena output cenderung menurun secara bertahap. MPOB, Dewan Minyak Sawit Malaysia, dijadwalkan merilis data pasokan dan permintaan Maret pada 10 April untuk memberikan gambaran yang lebih jelas bagi pasar.
Di pasar lain, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 0,27%, sementara kontrak minyak sawitnya melemah 0,28%. Dinamika harga ini mencerminkan persaingan antara minyak nabati di berbagai bursa serta reaksi investor terhadap berita regional. Pergerakan tersebut menambah volatilitas di pasar minyak nabati global.
Di sisi lain, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade naik 1,4%. Kondisi ini menandakan adanya variasi arah di pasar minyak nabati global dan dapat berdampak pada preferensi konsumsi bahan bakar nabati termasuk biodiesel berbasis minyak sawit. Kenaikan ini juga menambah keragaman sinyal bagi pelaku pasar terkait tren permintaan di sektor biodiesel.
Harga minyak mentah meningkat lebih dari lima dolar AS per barel setelah presiden AS menyatakan akan melanjutkan serangan terhadap Iran tanpa menyediakan jadwal pengakhiran konflik, sehingga kekhawatiran gangguan pasokan energi tetap ada. Ringgit Malaysia melemah 0,15% terhadap dolar AS, membuat CPO relatif lebih murah bagi pembeli yang membayar dalam mata uang asing.
Para pelaku pasar melihat peluang bagi perdagangan CPO berkat ekspektasi permintaan biodiesel yang kuat dan dinamika pasokan yang masih rapuh. Berbagai faktor makro menjadikan minyak sawit tetap menjadi komoditas yang sensitif terhadap berita geopolitik dan data produksinya.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia GAPKI memperkirakan permintaan bahan baku biodiesel sekitar 15 juta ton tahun ini, naik dua juta ton dibandingkan tahun sebelumnya, dengan program biodiesel B50 berbasis minyak sawit. Angka ini mencerminkan dukungan kebijakan domestik terhadap biodiesel dan potensi dukungan harga bagi CPO.
Ringgit melemah sekitar 0,15% terhadap dolar AS, membuat minyak sawit lebih menarik bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing meskipun tekanan dari fluktuasi mata uang tetap ada. Dari sudut trading, pembeli bisa mempertimbangkan posisi long pada kontrak CPO Juni jika harga mampu menembus resistance kunci, dengan stop loss di level sekitar 4.600 ringgit per ton dan target profit di kisaran 5.200 ringgit per ton untuk mencapai risk reward minimal 1:1,5.