
Analisis awal menunjukkan bahwa harga minyak turun tajam setelah Iran mempertimbangkan proposal AS yang bisa membuka kembali jalur Hormuz secara bertahap. Pergerakan harga dipicu oleh harapan bahwa aliran minyak melalui selat Hormuz bisa normal kembali, mengurangi risiko gangguan pasokan regional. Brent turun ke sekitar 96 dolar per barel pada satu titik sebelum reli kembali mendekati 100 dolar, menandai volatilitas tinggi di pasar energi.
Para analis, termasuk Ewa Manthey dan Warren Patterson, menekankan bahwa pasar tetap sensitif terhadap berita terkait Iran dan tindakan AS. Proyek satu halaman memorandum yang bisa menghapus pembatasan akses Iran ke pelabuhan Iran sedang dinegosiasikan melalui mediator, menambah bayangan kesiapan minyak untuk bergerak jika kesepakatan tercapai. Sinyal dari narasi geopolitik ini membantu menjelaskan mengapa sentimen pasar minyak masih rentan terhadap berita baru meski risiko jangka panjang belum jelas.
Inventori minyak di AS terus mengecil, sementara penurunan ekspor memberikan dukungan bagi prospek harga. Saat ini pasar menimbang likuiditas pasokan di wilayah Timur Tengah sebagai faktor penentu pergerakan harga jangka pendek. Meskipun ada penyusutan baru-baru ini, pasar tetap berhati-hati terhadap kemungkinan kemunduran kemajuan negosiasi yang bisa menahan harga kembali naik.
Data inventori minyak mentah AS menunjukkan penarikan sebesar 2,3 juta barel pekan terakhir, namun angka ini lebih kecil daripada penarikan 8,1 juta barel yang dilaporkan API dan sedikit lebih rendah dari ekspektasi pasar 2,4 juta barel. Penurunan ini sebagian besar dipicu turunnya ekspor minyak AS sebesar 1,7 juta barel per hari dibandingkan pekan sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan dinamika pasokan yang ketat namun tidak sejalan dengan ekspektasi analis.
Produksi OPEC berada pada level terendah multi-dekade, memberi dukungan bagi volatilitas harga jika risiko pasokan meningkat, meskipun beberapa anggota berada di bawah target produksi. Kestabilan pasokan global tetap rapuh karena gangguan geopolitik dan perubahan permintaan, sehingga pasar tetap reaktif terhadap pernyataan resmi dari produsen minyak utama. Faktor-faktor ini membuat investor menilai risiko dan peluang berdasarkan berita aliran perdagangan di Timur Tengah.
Di sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi global dan dinamika konsumsi energi mempengaruhi arah harga jangka pendek. Ketidakpastian seputar negosiasi Hormuz menambah tekanan pada volatilitas pasar, karena investor menimbang kapan aliran minyak bisa pulih sepenuhnya. Secara keseluruhan, pasar minyak tetap menimbang dua arah: potensi pelonggaran risiko pasokan versus kemungkinan gangguan berkelanjutan.
Jika jalur Hormuz kembali beroperasi secara bertahap, premi risiko pasokan dapat menyusut dan memberikan tekanan penurunan pada harga minyak. Namun, kemajuan negosiasi tetap tergantung pada kemauan Iran dan pihak pendamping, sehingga pergerakan harga tetap terpaku pada pembaruan berita. Reaksi harga yang mendekati 96–100 dolar per barel menunjukkan pasar merespon positif terhadap potensi stabilisasi aliran minyak, tetapi belum memastikan tren jangka panjang.
Gas alam Eropa juga mengikuti dinamika sama karena pasar energi global berkaitan erat, dan pergeseran di kawasan Timur Tengah bisa mempengaruhi harga gas serta minyak secara bersamaan. Pasar menilai bahwa langkah-langkah untuk mengurangi gangguan pasokan bisa menambah likuiditas di pasar energi, meskipun perhatian tetap fokus pada timeline dan hasil negosiasi. Ketidakpastian di sekitar perundingan Hormuz membuat investor tetap menimbang risiko dan peluang dalam beberapa bulan ke depan.
Seiring dengan pelibatan mediator dan perundingan lebih lanjut, sektor energi diperkirakan tetap sensitif terhadap setiap berita utama AS-Iran. Analisis ini menekankan bahwa perubahan harga lebih mungkin dipicu oleh dinamika geopolitik daripada perubahan fundamental jangka pendek saja. Dalam konteks saat ini, rekomendasi strategi adalah tetap berhati-hati, dengan fokus pada manajemen risiko jika Anda terpapar perdagangan minyak mentah.