Harga minyak dunia bergerak di zona merah pada perdagangan Jumat, mengikuti potensi pelonggaran sanksi terhadap minyak Iran yang berpotensi menambah pasokan global. Brent turun sekitar 1,6 persen ke level USD 106,94 per barel, sementara WTI melemah sekitar 2 persen di kisaran USD 93,65 per barel. Pasar tetap memerhatikan dinamika geopolitik yang bisa memengaruhi pasokan minyak secara menengah hingga panjang.
Harapan de-eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menekan harga minyak, karena ekspektasi pasokan bisa meningkat jika sanksi dicabut atau dilonggarkan. Washington dilaporkan meminta Israel menahan serangan terhadap infrastruktur energi Iran, sehingga pasar mengantisipasi kembalinya aliran minyak ke pasar global. Kebijakan ini menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga minyak dalam beberapa sesi terakhir.
Meskipun koreksi hari ini, harga minyak masih berada di atas level terendah intraday dan secara mingguan tercatat kenaikan lebih dari 3 persen. Analis memperingatkan bahwa volatilitas akan tetap tinggi karena ketidakpastian pasokan dan permintaan global. Kondisi ini menjaga risiko bagi investor yang berharap kenaikan berkelanjutan lebih lanjut.
Kebijakan untuk melepas cadangan minyak strategis tengah dipertimbangkan sebagai langkah menstabilkan harga. Beberapa pejabat di negara produsen utama menilai bahwa pelepasan cadangan bisa menambah pasokan dan membantu meredam lonjakan harga jika gejolak berlanjut. Skenario ini membuat volatilitas harga energi tetap tinggi.
Di sisi lain, analisis menyoroti bahwa harga minyak bisa melonjak jika gangguan pasokan Iran berlanjut melewati April, dengan beberapa perkiraan menyebut potensi lonjakan signifikan. Risiko geopolitik yang berulang membuat pasar tetap waspada terhadap jalur logistik utama di Selat Hormuz. Pasar juga mempertimbangkan kemungkinan tindakan kebijakan moneter negara besar yang bisa mempengaruhi permintaan minyak.
Secara historis, Brent sempat menyentuh tingkat tertinggi beberapa hari sebelumnya sebelum terkoreksi, menandakan dinamika harga yang sangat sensitif terhadap berita geopolitik. Lompatan harga di masa depan sangat bergantung pada eskalasi konflik regional dan langkah-langkah penyediaan cadangan. Dalam konteks 2026, prospek minyak tetap bergantung pada keseimbangan antara pasokan dan permintaan global.
Analisis jangka pendek menunjukkan bahwa gangguan pasokan di Iran bisa mendorong lonjakan harga, sementara dukungan pelonggaran sanksi berpotensi menambah pasokan dan menekan harga. Pasar terus memantau jalur pelayaran di Selat Hormuz karena gangguan tambahan bisa memperburuk volatilitas. Secara umum, dinamika supply-demand minyak tetap menjadi fokus utama para trader.
Dari sisi permintaan, ekspektasi kenaikan suku bunga di berbagai negara menambah risiko terhadap pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi. Investor menimbang potensi dampak kebijakan moneter terhadap biaya pembiayaan proyek-proyek energi. Akibatnya, peluang hedging pada komoditas energi tetap relevan bagi pelaku pasar.
Bagi produsen utama, kenaikan harga bisa meningkatkan pendapatan negara, namun bagi konsumen beban biaya energi bisa naik secara signifikan. Infrastruktur energi yang andal dan diversifikasi sumber pasokan menjadi kunci menjaga stabilitas biaya bagi rumah tangga dan industri. Cetro Trading Insight menyarankan para pelaku pasar memasukkan evaluasi risiko geopolitik ke dalam perencanaan portofolio energi.