Harga WTI berada di sekitar USD 60,70 pada sesi Asia, mencerminkan tekanan jual akibat data persediaan minyak mentah AS yang lemah bagi optimisme pasar. Pergerakan harga juga dipicu dinamika permintaan global dan aliran ekspor negara produsen utama yang terus diawasi investor. Para pelaku pasar pun mengkaji bagaimana faktor fundamental mempengaruhi arah minyak mentah di tengah rilis data akhir pekan ini.
Analisis teknikal menunjukkan adanya tekanan bearish jangka pendek, meski beberapa faktor fundamental berpotensi menambah volatilitas. Laju harga juga dipengaruhi ekspektasi bahwa laporan EIA nanti akan menguji kembali keseimbangan pasokan. Kondisi pasar secara umum masih rentan terhadap laporan mingguan dan berita geopolitik yang baru muncul.
Di sisi lain, laporan Reuters menyebut Venezuela melanjutkan ekspor minyak meski embargo tetap berlaku, dengan dua supertanker meninggalkan wilayahnya membawa minyak sekitar 3,6 juta barel. Langkah ini menjadi sinyal bahwa pemulihan pasokan dari Caracas mungkin berjalan meski ada hambatan politik. Hal ini mencerminkan dinamika supply-global yang kompleks di tengah tekanan sanksi internasional.
Para pedagang menunggu laporan persediaan minyak mentah mingguan EIA yang dijadwalkan rilis hari ini, sebagai konfirmasi arah tren harga. Data API kemarin telah meningkatkan tekanan jual, sehingga pasar menanti pembacaan EIA untuk mengklarifikasi dinamika supply. Sinyal dari EIA akan menjadi penentu dalam dua arah utama pergerakan harga minyak mentah.
Informasi terkait Venezuela menambah dimensi risiko terhadap estimasi pasar. Pembalikan sebagian pemotongan produksi oleh Venezuela menambah pasokan di pasar, meski embargo tetap membatasi seberapa cepat ekspor bisa pulih secara luas. Pasar merespons dengan menimbang dampak jangka pendek terhadap harga WTI yang berada di level kritis tersebut.
Di saat yang sama, ketegangan antara negara produsen besar lain juga berperan dalam volatilitas. Ketidakpastian geopolitik dan kemungkinan sanksi baru dapat menggeser persepsi investor terhadap prospek jangka menengah minyak mentah. Karena itu, banyak pihak menanti kejelasan dari laporan EIA berikutnya untuk melihat apakah ada perubahan keseimbangan pasokan global.
Presiden AS, Donald Trump, membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran dan menjanjikan bantuan bagi para pengunjuk rasa, sebagai bagian dari eskalasi retorika politik regional. Langkah ini menambah ketegangan yang berpotensi memicu volatilitas lebih lanjut pada pasar minyak. Investor menilai bagaimana kebijakan luar negeri dapat mempengaruhi aliran minyak dan harga jangka pendek.
Ketegangan di Iran menambah risiko suplai di wilayah penting penghasil minyak, meski kompensasi produksi dari negara lain dapat menahan tekanan lebih lanjut. Pasar juga terus mengkaji respons produsen utama terhadap dinamika geopolitik yang berkembang. Secara keseluruhan, risiko geopolitik tetap menjadi faktor utama yang bisa memantik pergerakan harga minyak jika situasinya memburuk.
Di tengah kombinasi data fundamental, laporan EIA, serta dinamika geopolitik, pasar minyak menunjukkan pola volatilitas yang berkelanjutan. Investor disarankan memperhatikan pembacaan data resmi serta perkembangan kebijakan luar negeri yang berpotensi mempengaruhi suplai dan harga minyak dalam beberapa kuartal ke depan.