
Ketika pasar energi global menantang, Harum Energy Tbk HRUM menata ulang strateginya. Cetro Trading Insight mencatat keputusan perusahaan untuk tidak membagikan dividen pada RUPST 3 Juni 2026 guna memperkuat arus kas dan menegaskan komitmen pada transformasi besar dari batu bara ke nikel. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya menjaga kelancaran likuiditas di tengah perubahan operasional.
RUPST yang digelar pada 3 Juni 2026 menyepakati alokasi laba Bersih 2025 sebesar 37,4 juta USD serta tindakan penyisihan untuk dana cadangan. Alokasi cadangan sebesar 0,1 juta USD menambah saldo menjadi sekitar 4,59 juta USD atau 15,9 persen dari modal ditempatkan dan disetor perseroan. Sisa laba dipakai untuk memperkuat saldo laba perseroan.
Perubahan komposisi pendapatan pun mencuat sejak awal 2026. Pada kuartal I 2026 bagian batu bara hanya 3 persen dari pendapatan, turun dari 42 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan volume penjualan batu bara mencapai 94 persen dan harga jual turun sekitar 10 persen. Sebaliknya sektor nikel meningkat signifikan dengan kontribusi 97 persen terhadap pendapatan, mencapai 345,9 juta USD, tumbuh 16 persen secara tahunan.
Keputusan tidak membagikan dividen menjadi langkah yang mempengaruhi arus kas perusahaan. Langkah ini menandai fokus pada investasi dan belanja modal sehingga perseroan tetap mampu memenuhi kewajiban jangka pendek. Menurut analisis, strategi ini disesuaikan dengan kebutuhan pembiayaan proyek nikel yang tengah berjalan.
Hingga laba bersih 2025 dialokasikan sebagian untuk dana cadangan sebesar 0,1 juta USD, meningkatkan rasio cadangan terhadap modal yang ditempatkan menjadi 15,9 persen. Sisa laba akan dialokasikan untuk meningkatkan saldo laba sebagai bagian dari upaya memperkuat struktur ekuitas. Kebijakan ini juga diambil untuk menjaga stabilitas kas dalam menghadapi volatilitas harga komoditas.
RUPST juga mempertimbangkan kebutuhan investasi jangka pendek dan belanja modal guna mendukung transformasi. Penilaian ini mencakup kapasitas produksi dan kewajiban jangka pendek yang harus dipenuhi sambil menjaga posisi kas perseroan tetap sehat. Transformasi ke nikel sedang ditangani dengan sejumlah proyek strategis yang menambah dimensi bisnis perseroan.
Harum Energy terlibat dalam proyek nikel di Weda Bay melalui tambang laterit Halmahera Timur dan fasilitas pemrosesan nikel di Weda Bay Industrial Park. Beberapa smelter Rotary Kiln Electric Furnace RKEF telah dioperasikan dengan mitra yakni PT Infei Metal Industry, PT Westrong Metal Industri, dan PT Sunny Metal Industry. Selain itu, perseroan mulai memasarkan pabrik High Pressure Acid Leaching HPAL melalui anak usaha PT Blue Sparking Energy sejak Maret 2026.
Proyek ini mendorong kontribusi pendapatan yang signifikan; pada kuartal I 2026 pendapatan nikel mencapai 345,9 juta USD dengan kenaikan volume penjualan 40 persen dan lonjakan harga jual rata-rata 29 persen secara tahunan. Sumbangan nikel semakin dominan terhadap kinerja perseroan, sementara segmen batu bara menurun drastis.
Secara jangka panjang, transformasi ke sektor nikel berpotensi memperbaiki profil pendapatan perusahaan dan menakar risiko investasi serta biaya. Cetro Trading Insight melihat dinamika ini sebagai pola pergeseran industri, dengan fokus pada produksi ramah lingkungan dan kemitraan strategis untuk mengamankan rantai pasokan. Namun investor perlu memperhatikan biaya modal dan volatilitas harga nikel yang dapat mempengaruhi laba di masa mendatang.