
Baru saja, Harum Energy Tbk (HRUM) menunjukkan aqsa peningkatan kinerja setelah produksi batu bara kembali normal. Seiring dengan pulihnya supply, likuiditas operasional perusahaan mulai menunjukkan tanda-tanda positif yang bisa menumbuhkan kepercayaan investor. Menurut Cetro Trading Insight, dinamika ini berpotensi mengubah arah laba menuju pemegang saham dalam beberapa kuartal ke depan.
Pada kuartal I-2026, laba konsolidasi HRUM melonjak 272% secara tahunan menjadi Rp150,6 miliar. Namun, laba yang diatribusikan kepada pemilik induk tercatat sebesar USD 8,9 juta. Kenaikan ini mencerminkan pemulihan operasional meskipun aliran laba per segmen masih menunjukkan variasi struktural akibat perubahan harga dan volume jual.
Rilis publik dari perusahaan menjelaskan bahwa rendahnya produksi batu bara di Q1-2026 disebabkan penundaan perizinan. Saat ini perizinan telah diperoleh dan produksi batu bara telah dimulai kembali serta berjalan normal. Kontribusi segmen batu bara terhadap pendapatan perseroan turun drastis menjadi 3% dibanding 42% pada periode yang sama tahun lalu, dipicu oleh turunnya volume penjualan hingga 94% dan koreksi harga jual rata-rata sebesar 10%.
Sementara itu, bisnis nikel semakin mendominasi kinerja perseroan. Segmen nikel menyumbang 97% dari total pendapatan dengan nilai USD345,9 juta, tumbuh 16% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan volume penjualan nikel sebesar 40% serta peningkatan Average Selling Price (ASP) sebesar 29% YoY. Hal ini menandakan adanya permintaan yang relatif kuat terhadap nikel, meski dinamika pasar komoditas global tetap dinamis.
Perseroan juga menyatakan kesiapan untuk menjaga pasokan bahan baku nikel di tengah potensi perubahan kebijakan RKAB sektor pertambangan. Upaya ini diarahkan untuk menjaga kelangsungan operasional smelter internal meskipun perubahan regulasi dapat mempengaruhi rantai pasokan.
Dalam konteks pasokan bijih nikel, HRUM menginformasikan bahwa pasokan dari PT Position (POS) saat ini belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan smelter internal. Namun, manajemen memperkirakan bahwa pada 2026 kontribusi pasokan POS akan meningkat signifikan, dengan target memenuhi lebih dari 50% kebutuhan konsumsi bijih nikel internal, dibanding sekitar 10% pada tahun sebelumnya. Langkah ini diharapkan memperkuat kestabilan produksi dan potensi laba jangka menengah.
Catatan: Artikel ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk pembaca yang ingin memahami posisi HRUM dalam konteks kinerja kuartal dan strategi masa depan.