
Analisis BBH oleh Elias Haddad menyoroti risiko penurunan Pound akibat pertumbuhan Inggris yang diperkirakan melemah. Fokus utama adalah bagaimana data ekonomi domestik dan dinamika harga dapat membentuk pergerakan kurs dalam beberapa kuartal ke depan. Meski ada potensi dukungan dari kebijakan moneter, tekanan fundamental tetap menjadi faktor penekan bagi GBP.
Data GDP April diperkirakan turun 0.1% secara bulanan, berlawanan dengan peningkatan 0.3% pada Maret, dan berada di bawah proyeksi BOE sebesar 0.1% untuk kuartal kedua. Sementara itu, PMI menunjukkan momentum yang lebih lemah, menambah gambaran bahwa pertumbuhan nyata di Q2 bisa terkontraksi lebih lanjut. Kondisi ini menambah kekhawatiran investor terhadap pelonggaran fiskal dan biaya pembiayaan.
BBH juga menilai bahwa tekanan harga dan upah yang dipicu energi shock bisa memperbesar efek second-round pada ekonomi. Dalam skenario ini, GBP berisiko melaju lebih rendah terhadap USD menuju level sekitar 1.3100 jika faktor-faktor fundamental tetap melemah dan risiko politik terus membayangi pasar valuta asing.
Saat ini, pasar memperkirakan sekitar 64 basis poin kenaikan suku bunga BoE dalam 12 bulan ke depan, membawa kisaran suku bunga ke 4.25%–4.50%. Proyeksi ini mencerminkan upaya kebijakan untuk menahan second-round effects meski pertumbuhan ekonomi sedang melambat.
Selain itu, volatilitas pasar mencerminkan harga 25 basis poin kenaikan pertama yang telah diperkirakan masuk pada pertemuan 17 September. Jalur kenaikan ini meningkatkan kebijakan hawkish, namun tetap berada dalam konteks pertumbuhan yang lemah dan inflasi yang tinggi.
Walau jalur kenaikan suku bunga dapat memberikan bantalan bagi GBP pada skenario tertentu, kombinasi antara pelemahan ekonomi dan dinamika inflasi membuat kekuatan mata uang ini tetap terjaga rendah. Investor perlu memperhatikan bagaimana risiko eksternal dan domestik berinteraksi dengan kebijakan moneter.
Isu politik dalam negeri menambah risiko terhadap Pound, dengan fokus utama pada Makerfield by-election yang dijadwalkan 18 Juni. Perkembangan politik dapat memicu perubahan persepsi investor mengenai kredibilitas fiskal dan arah kebijakan pemerintah ke depan.
Survei terbaru menunjukkan Andy Burnham memimpin Reform UK dengan selisih sekitar 10 poin, yang jika terealisasi bisa mengarah pada kembalinya Burnham ke parlemen dan potensi tantangan terhadap Perdana Menteri Keir Starmer. Kondisi ini menambah volatilitas pada pasar valuta asing sepanjang periode pemilu.
Jika pemerintahan Labour dipimpin Burnham, kebijakan fiskal ekspansif yang lebih besar berpotensi meningkatkan pengeluaran dan utang, yang pada gilirannya dapat menekan kredibilitas fiskal Inggris. Dampaknya bisa memperpanjang tekanan terhadap GBP meski ada dukungan dari langkah BoE yang lebih agresif.
Catatan: Artikel ini disusun untuk tujuan analisa pasar dan tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi perdagangan langsung. Konten ini merangkum pandangan umum dari riset BBH dan opini pasar terkait dinamika GBP.