Gangguan berkelanjutan di Selat Hormuz memperkuat tekanan pasokan minyak global. Kondisi ini terjadi saat perundingan damai antara AS dan Iran mengalami kendala, membuat aliran minyak melalui jalur utama pengiriman masih rapuh. Menurut analisis Cetro Trading Insight, base case terbaru memproyeksikan pemulihan aliran secara bertahap mulai Mei hingga Juni, meski volumenya diperkirakan tetap di bawah level pra-perang.
Konsekuensi dari situasi ini adalah tekanan pada pasokan hilir yang belum pulih penuh karena produksi hulu perlu ditutup sebagian akibat keterbatasan penyimpanan. Dampak infrastruktur juga berisiko memperlambat pemulihan dibanding skenario ideal. Ketidakpastian tersebut membuat prospek Brent tetap rentan terhadap gangguan tambahan dan variasi operasional di sepanjang tahun.
Dalam konteks harga, tren menengah didorong oleh rendahnya persediaan serta kebutuhan restok baik secara komersial maupun strategis. Hal ini berpotensi menjaga Brent pada level yang lebih tinggi sepanjang sisa tahun. Pembuat kebijakan dan trader perlu memantau aliran minyak serta dinamika regional untuk menilai arah harga lebih lanjut.
Base case baru memperlihatkan Brent rata-rata sekitar $104/bbl di kuartal kedua 2026, naik dari estimasi sebelumnya $96. Sementara itu, proyeksi untuk 4Q26 sekitar $92/bbl, naik dari $88/bbl sebelumnya. Perubahan ini mencerminkan perlambatan pemulihan aliran minyak dan respons permintaan yang tetap kuat meskipun volume pengaliran masih terbatas.
Risiko sisi atas muncul jika penutupan penuh Selat Hormuz bertahan hingga Mei, berpotensi mendorong Brent di atas $100/bbl untuk sisa tahun. Ketidakpastian rute dagang dan potensi gangguan infrastruktur tambahan menjadi faktor pendorong harga yang lebih tinggi. Investor menghadapi volatilitas lebih besar jika data operasional tidak sesuai harapan.
Ketika persediaan menipis, diperlukan penyesuaian besar pada cadangan komersial maupun strategis. Pemulihan aliran minyak yang lebih lambat memicu tekanan pada kebijakan stok dan pola konsumsi pasar. Secara umum, proyeksi harga Brent tetap didukung oleh faktor persediaan rendah dan kebutuhan restok meskipun risiko eksternal tetap ada.
Impact bagi strategi perdagangan terlihat pada fokus pemantauan arus Hormuz dan data stok minyak. Analisis ini menekankan bahwa pergerakan harga akan ditentukan oleh dinamika pasokan serta langkah-langkah penyimpanan kembali. Nama media kita adalah Cetro Trading Insight dikutip untuk menekankan relevansi analisis tersebut.
Peta kebijakan juga berperan, karena kerusakan infrastruktur dapat memperlambat pemulihan pasokan. Perubahan kebijakan stok cadangan internal dan komersial dapat menambah volatilitas harga jangka menengah. Pelaku pasar disarankan membangun rencana manajemen risiko yang mempertimbangkan skenario gangguan lebih lanjut dan pemulihan bertahap.
Kami di Cetro mengajak pembaca untuk mengikuti pembaruan data aliran minyak serta pernyataan pihak terkait secara berkala. Segala analisis ini menekankan potensi pergerakan harga yang lebih besar pada sisi atas jika Hormuz benar-benar menutup, namun risiko turun juga tetap ada. Dengan kerangka ini, panduan perdagangan menyarankan kehati-hatian sambil memanfaatkan peluang bias bullish dalam jangka menengah.