
IHSG tampil bak badai di pasar saham regional, menegaskan kembali tekanan yang membakar minat investor. Pada Senin (8/6/2026), indeks utama itu merosot sangat tajam, menulis hari kelima penurunan beruntun di tengah riak sentimen global yang terseret koreksi saham kecerdasan buatan. Laju pelemahan terasa lebih keras seiring rupiah berpotensi melemah lebih lanjut.
IHSG turun 4,21 persen ke level 5.358,98 poin pada 10:39 WIB, dengan nilai transaksi Rp9,21 triliun dan volume 12,95 miliar saham. Mayoritas saham berada di zona merah: 707 saham turun, 61 naik, dan 191 flat, mencerminkan sentimen risk-off yang melanda pasar Indonesia.
Analisis teknikal oleh tim Cetro Trading Insight menunjukkan IHSG telah menembus garis tren naik (uptrend line) dan area retracement Fibonacci 61,8 persen di sekitar 5.925, memberi sinyal koreksi berlanjut jika support minor di 5.360 gagal dipertahankan. Kondisi ini meningkatkan peluang penurunan lebih lanjut menuju area 5.040 dan zona 4.800-4.900 jika tekanan jual tidak mereda.
Secara teknis, IHSG kini bergerak mendekati support minor 5.360 yang dinilai krusial untuk pembentukan arah jangka pendek. Indikator MACD berada di zona negatif dan belum menunjukkan sinyal pembalikan tren yang kuat, sehingga peluang rebound baru terlihat jika ada konfirmasi dari harga. Kondisi ini menambah ketidakpastian bagi pelaku pasar.
Peluang rebound teknikal akan terbuka jika IHSG mampu menembus area resistensi 5.600 hingga 5.925, dengan pivot di sekitar 5.400. Namun jika tekanan jual berlanjut, indeks berpotensi bergerak menuju area support berikutnya di 4.900-5.000 sebagai target penurunan. Kembali, penentuan arah sangat bergantung pada dinamika saham-saham teknologI dan sentimen global.
Secara keseluruhan, sinyal teknikal masih menunjukkan pelemahan jangka pendek dengan konfirmasi lebih lanjut diperlukan sebelum perubahan tren tercapai, sehingga strategi wait-and-see dinilai relevan di tengah volatilitas tinggi. Investor diimbau menjaga eksposur dan memperhatikan level-level kunci tersebut.
Di kancah global, koreksi tajam pada saham-saham teknologi dan AI memicu risiko-off, dengan Nasdaq turun sekitar 4,2 persen dan KOSPI anjlok hingga 6,8 persen, bahkan memicu penghentian perdagangan beberapa saham sementara. Data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini menambah beban pada aset berisiko termasuk IHSG.
Di dalam negeri, rupiah melemah berkelanjutan menuju level terendah nominal Rp18.165 per USD, sementara Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Mei 2026 sebesar USD144,9 miliar—lebih rendah dibanding April 2026 (USD146,2 miliar). Perkembangan ini menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas nilai tukar dan likuiditas pasar domestik.
Investor disarankan berhati-hati dan tidak mengambil keputusan terburu-buru. Strategi yang disarankan adalah menunggu konfirmasi teknikal sambil menjaga eksposur rendah mengingat volatilitas pasar yang masih tinggi. Kondisi ini menuntut fokus pada manajemen risiko dan tujuan investasi jangka pendek.