IHSG Menuju 8.000: DBS Indonesia Optimis Laba Emiten, MSCI, dan Makro jadi Katalis

IHSG Menuju 8.000: DBS Indonesia Optimis Laba Emiten, MSCI, dan Makro jadi Katalis

trading sekarang

Cetro Trading Insight memantau momentum pasar yang menggiurkan: IHSG berpotensi menembus level 8.000 meskipun volatilitas global masih tinggi. Bank DBS Indonesia menilai ada tiga pilar utama yang memperkuat optimisme tersebut. Komentar ini disampaikan dalam Media Briefing DBS Institutional Forum 2026, Rabu 29 Juli 2026. Penegasan tersebut menambah keyakinan bahwa pasar domestik lebih siap menghadapi dinamika global.

Kinerja laba emiten domestik menjadi bantalan utama bagi perjalanan IHSG. DBS mencatat laba bersih emiten tumbuh 7,5 persen secara year on year pada kuartal pertama dan 4,8 persen pada kuartal kedua. Pertumbuhan solid ini menunjukkan fundamental korporasi masih kuat meski ada sejumlah tantangan eksternal. Hal ini membuat valuasi pasar mulai menyesuaikan secara bertahap.

Valuasi IHSG saat ini terlihat menarik karena P/E sekitar 9 kali, sebuah posisi yang dianggap oversold jika dibandingkan target 13 kali P/E. DBS yakin bahwa penilaian akan kembali wajar seiring emiten mampu membukukan laba lebih kuat. Dengan adanya potensi rotasi dana asing, indeks bisa mengejar performa lebih sejalan dengan wilayah ASEAN.

Faktor kedua yang menopang skenario positif adalah keputusan MSCI untuk mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi emerging market. Langkah ini dinilai efektif meredam risiko tekanan jual dari dana pasif global. Analisis DBS menekankan bahwa keputusan tersebut memberi waktu bagi pasar untuk menyesuaikan valuasi sejalan dengan kinerja laba.

Arus dana pasif cenderung mengikuti indeks, sehingga klasifikasi baru membantu mengurangi volatilitas di pasar. DBS menyiratkan bahwa stabilitas aliran modal dapat meminimalkan tekanan penjualan saat investor asing menyesuaikan portofolio. Dengan demikian momentum pembalikan arah pasar bisa lebih terjaga dan terarah pada saham-saham berfundamental kuat.

Kenormalan kinerja IHSG Indonesia tetap underperform dibanding negara Asia lainnya, sehingga ada peluang rotasi dana menuju aset yang lebih menarik. Penilaian ini menunjukkan ruang untuk mengejar ketinggalan terhadap ASEAN cukup besar jika faktor fundamental tetap kuat. Hal ini membuat ekspektasi investor tetap terjaga seiring peluang laba kuartalan mulai terlihat.

Asumsi makroekonomi yang menjadi pijakan pasar meliputi rupiah sekitar Rp18.000 per dolar AS dan asumsi tidak ada kenaikan suku bunga The Fed di sisa tahun ini. DBS memperkirakan BI Rate hanya naik satu hingga dua kali lagi, sehingga biaya modal relatif terkendali. Kondisi ini membuat IHSG terlihat menarik meski pasar dinilai undervalued di kisaran 6.200.

Ketika kepercayaan pasar mulai pulih seiring dirilisnya laba kuartal kedua, arus modal bisa berbalik menjadi dukungan bagi saham-saham dengan fundamental kuat. Rotasi dana asing dapat memperbaiki likuiditas pasar dan meningkatkan partisipasi investor institusional. Dengan demikian pergerakan indeks bisa menjadi lebih stabil meski volatilitas global tetap tinggi.

DBS menegaskan Indonesia memiliki ruang untuk mengejar ketertinggalan dibandingkan ASEAN jika kinerja laba tetap solid. Target 8.000 mencerminkan potensi menyerap arus dana yang lebih besar seiring perbaikan valuasi dan kepastian kebijakan. Pasar modal nasional diperkirakan akan mengalami pergeseran sentimen yang mengangkat peluang investasi bagi emiten berkualitas.

banner footer