
IHSG mengalami tekanan berat hingga Mei 2026 dengan koreksi yang signifikan. Data CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) menunjukkan penurunan sekitar 12 persen pada bulan itu, menempatkan IHSG di posisi terendah dalam beberapa siklus. Koreksi besar ini memantik volatilitas, namun juga membuka peluang bagi investor untuk menimbang valuasi saham yang lebih menarik di level historis. Di balik langkah tersebut, dinamika kebijakan fiskal dan faktor global menjadi komponen penting yang membentuk arah pasar.
CGSI menilai bahwa koreksi ini menyebabkan valuasi saham turun ke level terendah dalam 15 tahun terakhir, sehingga potensi pemulihan menjadi tema utama. Riset Hadi Soegiarto dan Elizabeth Noviana yang dirilis 10 Juni 2026 memperlihatkan forward P/E beberapa saham berada di sekitar 8,1 kali untuk satu tahun ke depan, dibandingkan rata-rata 14,8 kali sepanjang 11 tahun terakhir. Dalam konteks prediksi emas, volatilitas global menambah kompleksitas bagi investor yang menggabungkan faktor makro dengan pergerakan rupiah dan kebijakan domestik. Array data makro juga memperlihatkan bahwa indikator menuju stabilitas meski belum sepenuhnya pulih.
Sambil menanti momentum, sentimen pasar mulai menunjukkan pembalikan perlahan. IHSG naik sekitar 10,5 persen dalam dua hari perdagangan pada 8–9 Juni 2026, diikuti penguatan 2,07 persen pada 12 Juni 2026, dan menembus level psikologis 6.000 ke 6.007,66. Meski demikian, IHSG masih turun 13,63 persen dari level penutupan 30 April 2026 dan turun 30,52 persen secara YTD. Arus keluar asing tetap menjadi fokus utama, meski beberapa tanda stabilitas makro dan evaluasi indeks global mulai membaik. Array data
Langkah mengejutkan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada 9 Juni 2026 menjadi sinyal bahwa kebijakan moneter diarahkan menjaga stabilitas dan menarik aliran modal asing. Kebijakan itu diiringi peningkatan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk memperkuat daya tarik investasi domestik. Respons pasar berupa penguatan Rupiah sekitar 2 persen terhadap dolar AS dalam dua hari perdagangan, menjadi salah satu kenaikan dua hari terbesar sejak Januari 2026. Dalam konteks prediksi emas, kebijakan ini juga menggambarkan bagaimana volatilitas global dapat mempengaruhi alokasi aset berisiko di pasar negara berkembang.
CGSI menilai meski arus keluar asing sempat deras, ada potensi katalis lain seperti optimasi program makan bergizi gratis MBG dan kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax pada 10 Juni 2026 yang didorong disiplin fiskal. CGSI memperkirakan langkah-langkah tersebut dapat menghemat anggaran hingga puluhan triliun rupiah jika tren harga minyak tetap tinggi hingga akhir 2026. Array data makro menunjukkan bahwa dinamika fiskal dan pasokan energi menjadi faktor kunci bagi prospek IHSG ke depan.
Sisi risiko tetap ada, terutama terkait hasil tinjauan rating sovereign Indonesia oleh S&P Global Ratings yang diperkirakan berlangsung pada Juni atau Juli 2026. CGSI menekankan bahwa peluang pemulihan tetap ada asalkan stabilitas makro dan kepercayaan investor terus membaik, meski ada ketidakpastian terkait kinerja korporasi dan kebijakan sektor utama. Dalam strategi, CGSI menekankan kombinasi saham siklikal dan emiten yang telah mengalami koreksi signifikan untuk memanfaatkan perbaikan fundamental secara bertahap.
CGSI secara berkala memperbarui daftar saham pilihan untuk mencerminkan dinamika siklikal dan perubahan kondisi pasar. Analisis ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran peluang bagi investor ritel maupun institusional dalam menghadapi perbaikan likuiditas dan valuasi yang lebih menarik. Array data juga digunakan untuk menilai profil risiko dan potensi return sesuai kelas aset yang berbeda.
Daftar saham unggulan CGSI di antaranya Bank Central Asia Tbk (BBCA), Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Astra International Tbk (ASII), Kalbe Farma Tbk (KLBF), Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM), dan MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA). CGSI menegaskan penambahan BBCA, ASII, KLBF, dan MAPA ke dalam daftar pilihan, sementara beberapa emiten seperti Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), EXCL, CMRY, DSNG, TAPG, ARCI, HMSP, dan GGRM dikeluarkan dari daftar pantauan karena kinerja harga yang kurang mendukung. Penyesuaian ini mencerminkan fokus pada saham dengan prospek fundamental yang lebih berpotensi pulih.
Strategi investasi berfokus pada peluang pemulihan dengan manajemen risiko yang jelas. Investor perlu memperhatikan rencana evaluasi kredit, likuiditas saham, dan potensi pergerakan harga. Dalam konteks prediksi emas, alokasi aset menjadi kunci, sementara Array data membantu pembaca Cetro Trading Insight mengikuti pergerakan pasar secara terstruktur.