Gelombang volatilitas melanda bursa Indonesia setelah MSCI mengungkap evaluasi terkait free float dan transparansi kepemilikan. IHSG sempat anjlok intraday lebih dari 8 persen dan mengalami trading halt yang memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar. Investor mencoba memahami apa langkah berikutnya, antara tekanan teknikal dan perubahan persepsi atas kualitas pasar.
MSCI menunda perubahan indeks hingga Mei 2026 sambil meminta reformasi tata kelola yang lebih kuat. Otoritas Indonesia tengah merumuskan kebijakan untuk merespons rekomendasi tersebut, sementara beberapa pelaku pasar menilai situasi ini menahan arus masuk kas asing. Dampaknya terasa pada volatilitas jangka pendek meski analisis terhadap fundamental emiten tetap membangun letak optimis.
Di ranah analisis, Cetro Trading Insight menegaskan bahwa tekanan pasar lebih didorong oleh kebingungan investor daripada penurunan fundamental. Secara inti, proyeksi laba di beberapa emiten masih cerah berkat permintaan domestik yang solid dan harga komoditas global yang relatif stabil. Sementara itu, valuasi yang relatif murah dan tingkat dividen yang atraktif menjadi pilar penyangga bagi investor jangka panjang.
Beberapa bank besar memperkuat dukungan likuiditas dengan rencana buyback saham senilai Rp5 triliun, langkah yang diharap dapat meredam volatilitas dan menstabilkan pasar. Selain itu, beberapa konglomerasi besar memiliki mandat buyback yang bisa diaktifkan kembali jika volatilitas berlanjut. Upaya ini terlihat sebagai sinyal positif bahwa pelaku korporasi siap menyuntikkan cash untuk menjaga kepercayaan investor.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merespons dengan memperkenalkan ketentuan free float minimum 15 persen bagi perusahaan terbuka, sebagai upaya meningkatkan likuiditas dan akses investor. Kebijakan ini diharapkan memperbaiki kepemilikan publik dan mendorong arus modal asing untuk kembali masuk. Langkah-langkah pembenahan ini menjadi bagian dari kerangka reformasi yang lebih luas yang diantar menuju Mei 2026.
Riset DBS Bank pada 30 Januari 2026 menegaskan bahwa risiko penurunan status Indonesia dari negara berkembang ke pasar frontier dapat terjadi jika kriteria ukuran pasar dan likuiditas tidak terpenuhi, meski secara fundamental pandangan jangka panjang tetap positif. Namun DBS menegaskan bahwa skenario terburuk tersebut tidak mencerminkan kondisi Indonesia saat ini; negara ini tetap memiliki ukuran pasar relatif besar di antara frontier markets dan mampu mengundang aliran dana jangka panjang. DBS juga menilai bahwa valuasi saat ini masih menarik bagi investor jangka menengah.
Secara jangka panjang, DBS menilai potensi saham berkapitalisasi besar Indonesia masih menarik karena valuasi relatif murah, dukungan demografi, dan posisi negara sebagai penerima manfaat fase sweet spot pada komoditas global. Pertumbuhan laba diperkirakan melaju seiring reformasi fiskal dan penguatan pasar obligasi domestik. Ketahanan permintaan domestik memberikan fondasi bagi perusahaan besar untuk menjaga momentum keuntungan.
Nilai saham terlihat murah dibanding rata-rata historis, dengan potensi imbal hasil dari dividen yang masih sehat. Dukungan dividend yield yang tinggi menambah daya tarik bagi investor institusional yang mencari pendapatan tetap. Dengan dinamika domestik yang stabil, peluang untuk portofolio besar tetap terjaga meski isu eksternal menimbulkan volatilitas.
Strategi praktis yang direkomendasikan adalah menjaga overweight pada saham-saham unggulan berkapitalisasi besar sambil memanfaatkan koreksi untuk mengakumulasi posisi. Perluasan alokasi di pasar domestik dianggap sebagai dasar untuk mengatasi ketidakpastian sementara dana global menimbang peluang di Indonesia. Cetro Trading Insight menekankan pentingnya seleksi saham berkualitas tinggi yang memiliki fundamental kukuh dan kapasitas pembayaran dividen yang konsisten.