IHSG bergejolak dengan penutupan di zona merah tipis pada level 7.621,38. Pergerakan ini menantang pelaku pasar untuk membaca arah jangka pendek yang bisa berubah tajam sewaktu-waktu. Dalam perspektif teknikal, analisa dari Cetro Trading Insight menunjukkan IHSG berada dalam kerangka gelombang yang tengah terbentuk, dengan peluang rebound bila dukungan teknikal mampu menahan tekanan jual. Kondisi ini perlu diikuti dengan seksama karena dinamika gelombang sering menentukan arah berikutnya dalam beberapa sesi ke depan.
Riset dari MNC Sekuritas pada Jumat, 17 April 2026, menyebut IHSG berada pada bagian dari wave [iv] dari wave A label hitam atau bagian wave B pada label merah. Skema ini mengarah pada potensi pergerakan menuju rentang 7.786–7.843 untuk menguji area resistensi utama. Dengan demikian, jalur menuju perbaikan teknikal tergantung respons indeks terhadap zona resistensi tersebut dan bagaimana ia menembus level-level penting di kisaran tersebut.
Area koreksi terdekat diperkirakan berada di kisaran 7.453–7.575, sedangkan level support terlihat di 7.488 dan 7.351. Adapun resistance berada pada 7.700 dan 7.861. Bagi investor, dinamika ini menuntut kehati-hatian karena pergerakan IHSG bisa berubah jika faktor fundamental atau performa teknikal lokal mengalami perubahan signifikan dalam waktu dekat.
Berikut fokus rekomendasi saham unggulan yang dibahas oleh MNC Sekuritas dan disampaikan secara rinci oleh Cetro Trading Insight. Strategi yang diusung adalah Buy on Weakness untuk beberapa saham terkemuka, yaitu BBKP, BRMS, CPIN, dan PSAB. Rekomendasi ini didasarkan pada pola arus beli yang terlihat pada volume serta posisi saham dalam pola gelombang korektif dan uptrend jangka pendek. Tujuan utamanya adalah memanfaatkan setiap penurunan kecil untuk masuk dengan target keuntungan yang relevan seiring pemulihan teknikal.
BBKP bergerak menguat 1,54 persen menjadi Rp66, dengan volume pembelian yang muncul. Posisi BBKP diperkirakan berada di akhir wave iii dari wave A, sehingga penguatan lanjutan cenderung terbatas dan rawan koreksi terlebih dahulu membentuk wave iv. Buy on Weakness: Rp63–65; Target Price: Rp69, Rp71; Stoploss: di bawah Rp61.
BRMS bergerak flat di sekitar Rp855 dengan volume pembelian yang terlihat. Diperkirakan posisi BRMS sedang berada pada bagian ii dari wave C dalam struktur label hitam. Buy on Weakness: Rp815–835; Target Price: Rp940, Rp1.025; Stoploss: di bawah Rp790. CPIN menguat 1,59 persen menjadi Rp4.470 dan didominasi oleh pembelian yang meningkat. CPIN diperkirakan berada pada bagian awal dari wave v dalam gelombang 1. Buy on Weakness: Rp4.400–4.440; Target Price: Rp4.520, Rp4.690; Stoploss: di bawah Rp4.370. PSAB melonjak 7,62 persen ke Rp565 dengan volume pembelian. Diperkirakan PSAB berada pada bagian iii dari wave C. Buy on Weakness: Rp545–565; Target Price: Rp600, Rp635; Stoploss: di bawah Rp520.
Secara umum, artikel ini menyoroti pendekatan teknikal dengan fokus Buy on Weakness pada beberapa saham unggulan. Namun, kesesuaian antara target, level masuk, dan rasio risiko-imbalan tidak selalu memenuhi standar minimal 1:1,5 secara konsisten jika diterapkan pada semua instrumen yang disebut. Karena itu, sinyal tunggal untuk IHSG secara keseluruhan tidak dapat disimpulkan dengan kuat berdasarkan data dalam artikel ini.
Bagi investor, langkah praktis yang dapat diambil adalah melakukan analisis terpisah terhadap masing-masing saham yang disebut, memeriksa level entry, resistensi, serta manajemen risiko yang relevan dengan profil risiko pribadi. Mengingat target dan stoploss pada tiap saham berbeda, ukuran posisi perlu disesuaikan agar potensi keuntungan sejalan dengan risiko yang diambil. Cetro Trading Insight akan terus memantau pergerakan IHSG dan rekomendasi saham untuk memberikan panduan yang lebih terperinci di waktu mendatang.
Penutupnya, Cetro Trading Insight (nama lengkapnya Cetro Trading Insight) mengajak pembaca untuk menjaga kehati-hatian dan melakukan due diligence sebelum mengambil keputusan investasi. Pasar Indonesia tetap dinamis, dan pendekatan disiplin serta analisis yang komprehensif menjadi kunci dalam mengubah peluang teknikal menjadi hasil yang konsisten bagi portofolio investor.