Menurut analisis yang diringkas oleh Cetro Trading Insight, inflasi AS pada Februari tampak terkendali sebelum munculnya aksi militer Iran. Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan pada komponen inti dan harga barang relatif terbatas terhadap respons tarif. Para analis menilai gambaran inflasi masih berada dalam batas wajar meskipun ada risiko eksternal yang bisa memindahkan jalurnya.
Knightley menekankan bahwa kenaikan biaya energi, minyak, serta biaya logistik dan tiket pesawat dapat mendorong inflasi headline kembali di atas 3% pada kuartal kedua. Ia memperkirakan tekanan harga berpotensi naik karena dinamika geopolitik regional, sehingga pemulihan menuju 2% bisa tertunda hingga akhir 2026. Ketidakpastian tersebut menambah ruang bagi volatilitas harga energi di pasar global.
Jika komponen inti (kecuali makanan dan energi) mulai melandai, pembuat kebijakan kemungkinan akan lebih nyaman melakukan pemangkasan suku bunga di beberapa langkah pada akhir tahun. Namun, jalur kebijakan tetap tergantung pada bagaimana dinamika biaya energi dan pasar tenaga kerja berkembang dalam beberapa kuartal mendatang.
Faktor energi yang lebih mahal dan hambatan pasokan di wilayah Timur Tengah meningkatkan risiko lintasan inflasi. Pergerakan harga minyak dan gasolin yang lebih tinggi dapat mendorong biaya transportasi dan logistik naik, sementara gangguan rantai pasokan berpotensi menekan pertumbuhan konsumsi. Dalam konteks ini, tekanan harga dapat tersebar ke berbagai sektor ekonomi.
Knightley juga menyoroti lonjakan biaya logistik dan tiket pesawat sebagai kontributor utama bagi harga barang yang lebih tinggi. Ketidakpastian pasokan menambah tantangan bagi dinamika inflasi inti meskipun beberapa komponen tetap terkendali. Pasar akan memantau bagaimana faktor energi mempengaruhi kebijakan moneter dan prospek pertumbuhan.
Secara jangka menengah hingga panjang, ada risiko bahwa inflasi headline tidak kembali ke 2% hingga paruh kedua 2027. Sementara itu, tekanan energi meningkat kemungkinan menahan daya beli dan menambah beban pada prospek ekonominya secara keseluruhan.
Data inflasi Februari yang relatif stabil mendapat respons pasar yang terbatas karena investor menimbang potensi pergerakan inflasi ke depan seiring dinamika geopolitik di Timur Tengah. Pasar berpegang pada skenario di mana arah kebijakan sangat dipengaruhi oleh evolusi harga energi dan perubahan pada indikator tenaga kerja.
Lonjakan harga minyak dan biaya transport juga bisa meningkatkan volatilitas harga saham dan indeks. Namun jika tren inflasi inti menunjukkan perbaikan, pasar bisa lebih meyakinkan prospek pemangkasan suku bunga di masa mendatang, meski jalurnya tetap tergantung pada data inti yang berkelanjutan.
Untuk jangka menengah, investor disarankan menjaga diversifikasi portofolio dan memantau data inflasi inti serta pernyataan kebijakan Federal Reserve. Nada kebijakan yang hati-hati akan diperlukan mengingat risiko geopolitik, energi, dan logistik yang dapat menggeser jalur pertumbuhan dan imbal hasil aset berisiko maupun pendapatan tetap.