
Menurut analisis ekonom Standard Chartered, kenaikan harga minyak serta barang terkait AI mendorong biaya impor dan PPI China ke jalur positif, menandai berakhirnya deflasi bertahun-tahun. Laporan ini—disusun oleh Cetro Trading Insight—menekankan bahwa meski biaya naik, China tetap berperan sebagai kekuatan disinflasi secara keseluruhan. Reflasi berbasis biaya kemungkinan lebih moderat karena basis perbandingan dan dinamika permintaan domestik yang lebih rendah.
Seiring waktu, ekspor China naik lebih lambat dibandingkan biaya impor dan mitra dagang utama, sehingga laju peningkatan harga ekspor tidak secepat impor. Penyaluran biaya sebagian besar terkonsentrasi pada sektor hulu seperti logam dan produk elektronik, didorong oleh permintaan global untuk AI serta harga minyak terkait konflik regional. Kondisi ini mengurangi risiko tekanan inflasi global meski ada lonjakan pada beberapa segmen harga.
Indeks harga ekspor China melesat mendekati level tertinggi hampir tiga tahun pada April, menimbulkan kekhawatiran ekspor inflasi. Namun, perubahan harga ekspor tetap tertinggal dibanding impor dari sisi waktu dan besaran. Inflasi PPI di sektor manufaktur lebih lemah daripada di pertambangan dan bahan baku, dan PPI barang konsumen masih berada dalam deflasi. Secara keseluruhan, pertumbuhan harga ekspor China masih di bawah mitra dagang utama, sehingga ekspor berperan menahan inflasi global; satu pengecualian adalah IC export prices yang meningkat karena dorongan AI.
Analisis ini menekankan bahwa reflasi biaya kali ini kemungkinan lebih moderat daripada periode 2021–22. Alasannya melibatkan basis perbandingan yang tidak lagi ultra-rendah akibat gangguan COVID serta permintaan domestik yang lebih lemah dibandingkan pemulihan permintaan global pasca pandemi, tercermin dari penurunan utilisasi kapasitas manufaktur.
Meski harga ekspor meningkat, kenaikan China tetap lebih lambat dibanding mitra dagang utama, sehingga dampak pada inflasi global relatif terbatas. Namun ada dinamika khusus pada IC export prices yang didorong oleh lonjakan investasi AI, menunjukkan bahwa segmen tertentu tetap menjadi sumber tekanan harga di pasar global.
Secara umum, cost reflation diperkirakan tetap moderat dan tidak menirukan puncak reflation 2021–22. Prospeknya bergantung pada arah harga minyak, logam, serta permintaan global yang berfluktuasi. Perubahan geopolitik dan gangguan rantai pasok bisa memicu volatilitas energi, sehingga para pelaku pasar perlu memantau risiko terkait.
Dari sisi risiko, tekanan biaya akan tetap menjadi driver utama harga global. Namun basis harga lebih tinggi dan permintaan domestik China yang lembut menahan percepatan reflasi, sehingga arah inflasi global cenderung tertahan dalam kisaran yang lebih luas.
Pasar internasional juga menantikan bagaimana harga minyak, logam, serta dinamika investasi AI memengaruhi pasar IC. Walau lonjakan di segmen IC bisa menambah tekanan harga, paparan inflasi global dapat terkendali jika China menjaga momentum biaya input dan PPI tetap terkendali.
Bagi trader, arah pergerakan USDCNH dan aset terkait akan dibentuk oleh kombinasi inflasi China dan permintaan global. Risiko geopolitik serta volatilitas energi tetap menjadi faktor utama. Pendekatan risk-reward yang seimbang disarankan untuk menghadapi potensi fluktuasi di pasar energi dan teknologi.