Inflasi Filipina Melonjak, BSP Diperkirakan Dua Kenaikan 25bps Menuju 2026

trading sekarang

Analisis awal menunjukkan inflasi Filipina melonjak ke level tertinggi dalam 37 bulan, meningkatkan tekanan pada kebijakan moneter. Para ekonom UOB, Julia Goh dan Loke Siew Ting, menilai dua kenaikan 25 bps pada suku bunga kebijakan diperlukan. Mereka memperkirakan batas RRP naik menjadi 5,00% dan dipertahankan hingga akhir 2026. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.

Lonjakan inflasi didorong oleh gangguan pasokan energi terkait Timur Tengah, efek basis, serta pelemahan peso (PHP). Para analis menekankan bahwa dinamika ini bisa mendorong inflasi ke tingkat 10% pada penghujung tahun jika konflik berlanjut. Kondisi ini menguatkan argumen untuk kebijakan yang lebih hawkish dan penyangga pertumbuhan jangka menengah.

Secara keseluruhan, proyeksi terbaru memperkuat pandangan bahwa dua kenaikan 25 bps pada suku bunga RRP diperlukan, satu pada Juni dan satu lagi di triwulan ketiga 2026, untuk menahan tekanan harga sambil mendukung pertumbuhan lewat dukungan fiskal yang berkelanjutan. RRP diperkirakan mencapai 5,00% dan dipertahankan hingga akhir 2026, sejalan dengan narasi kebijakan yang lebih hawkish tetapi tetap berorientasi pada data.

Menyusul rilis inflasi April yang lebih panas, analisis kami menilai bahwa dua kenaikan 25 bps pada target RRP akan dilakukan, membawa suku bunga ke 5,00% dan mempertahankannya melalui 2026. Langkah ini dianggap menyeimbangkan antara tekanan inflasi dan dukungan terhadap aktivitas ekonomi. Bank sentral menegaskan bahwa kebijakan akan bersifat data-dependent, sehingga pelaku pasar perlu mengikuti perkembangan data ekonomi secara berkala.

Strategi kebijakan ini dipandang lebih hawkish namun tetap berorientasi pada data. Faktor eksternal seperti volatilitas harga energi global dan fluktuasi arus modal akan menjadi penentu jalur kebijakan ke depan. Meski demikian, panduan umum menunjukkan bahwa rencana dua kenaikan 25 bps ini menjadi bagian dari upaya menahan inflasi sambil menjaga pertumbuhan jangka menengah.

Jalur kebijakan yang diharapkan adalah RRP menuju 5,00% dan dipertahankan hingga akhir 2026. Hal ini sejalan dengan pernyataan kebijakan yang menekankan pendekatan yang berhati-hati, namun tegas, terhadap inflasi. Para analis menilai langkah ini memberi sinyal jelas kepada pelaku pasar mengenai arah kebijakan dalam menyeimbangkan stabilitas harga dan dukungan ekonomi.

Implikasi terhadap pasar, terutama pasangan USD/PHP, bergantung pada dinamika suku bunga global dan perbedaan siklus kebijakan. Jika AS mempercepat normalisasi kebijakan versus Filipina, pergerakan USD/PHP bisa lebih kuat di sisi USD, meski ada dukungan dari komponen domestik yang membatasi volatilitas. Pelaku pasar perlu memantau data inflasi AS dan komentar pejabat Federal Reserve untuk arah jangka pendek.

Penjelasan dalam analisis ini menekankan bahwa perubahan ke 5,00% dan komitmen untuk menahannya dapat menjaga tekanan harga lokal dan arus modal. Ketidakpastian regional tetap ada, tetapi jalur kebijakan BSP memberikan kerangka kerja yang jelas bagi investor asing dan pedagang ritel. Respons pasar akan dipicu potensi data inflasi terbaru dan pernyataan kebijakan berikutnya.

Kesimpulan: tanpa informasi lebih lanjut mengenai arah suku bunga AS atau faktor fundamental lain yang jelas, sinyal trading pada USDPHP saat ini tidak dapat direkomendasikan. Oleh karena itu, tidak ada rekomendasi entri, dan fokus analisis akan berada pada rilis data ekonomi berikutnya serta pernyataan kebijakan terkait.

banner footer