Inflasi Listrik AS Diprediksi Tetap Tinggi Hingga 2026 Karena AI dan Kendala Pasokan, BNP Paribas Peringatkan

Inflasi Listrik AS Diprediksi Tetap Tinggi Hingga 2026 Karena AI dan Kendala Pasokan, BNP Paribas Peringatkan

trading sekarang

Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight. Dalam ulasan ini, kami merangkum temuan BNP Paribas terkait dinamika inflasi listrik di Amerika Serikat dan implikasinya bagi rumah tangga serta dunia bisnis. Analisis ini dirangkum dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca awam tanpa mengurangi akurasi data.

Para ekonom BNP Paribas, Anis Bensaidani dan Pascal Devaux, menunjukkan bahwa inflasi listrik di AS tetap tinggi karena permintaan energi untuk pusat data yang terkait dengan perkembangan AI, disertai kendala struktural pada sistem tenaga. Mereka menekankan bahwa tekanan ini tidak merata secara regional, sehingga beberapa wilayah harus menanggung beban biaya yang lebih besar. Selain itu, risiko inflasi lanjutan muncul jika kapasitas pembangkit tidak ditingkatkan sejalan dengan pertumbuhan permintaan energi.

Kenyataan geografis menunjukkan adanya perbedaan dalam dampak biaya listrik pada rumah tangga. Ketika harga energi melonjak, sebagian rumah tangga menghadapi tagihan yang lebih berat meskipun tingkat inflasi secara keseluruhan belum mencapai target. Kondisi ini memperburuk beban anggaran rumah tangga dan meningkatkan kekhawatiran mengenai kemampuan konsumen untuk berbelanja dalam jangka menengah.

Menurut kajian tersebut, kapasitas pembangkitan yang tersedia serta kualitas jaringan listrik saat ini membatasi ekspansi AI dan pembentukan pusat data baru hingga setidaknya tahun 2030. Berbagai hambatan seperti pasokan gas yang terbatas, waktu pembangunan reaktor nuklir yang panjang, pembatasan pada energi terbarukan, serta hambatan impor komponen kritis memperlambat upaya meningkatkan kapasitas energi tersebut.

Ketatnya pasokan listrik berpeluang memperbesar tekanan pada pasar energi lokal, sehingga harga listrik rumah tangga bisa terus meningkat bahkan di tengah upaya meredam inflasi. Risiko ini berdampak pada daya saing perusahaan yang tengah menghadapi kenaikan biaya input dikarenakan tarif baru serta biaya logistik lain yang terkait dengan energi.

Selain itu, kenaikan biaya energi pada tingkat pabrik dan fasilitas produksi berpotensi meningkatkan harga produk akhir. Perusahaan yang bergantung pada energi sebagai input utama akan merasakan tekanan margin dan perlu menimbang strategi efisiensi energi serta perlindungan terhadap volatilitas harga.

Di sisi rumah tangga, beban tagihan listrik yang lebih tinggi berisiko menekan pengeluaran konsumen dan menambah tekanan pada anggaran rumah tangga di periode yang menantang secara ekonomi. Hal ini dapat mempengaruhi pola pengeluaran untuk barang-barang berharga dan layanan non-esensial yang biasanya menjadi bagian dari konsumsi rumah tangga.

Kapasitas, Kebijakan, dan Prospek hingga 2030

Paribas menegaskan bahwa kapasitas pembangkit saat ini dan jaringan listrik yang ada akan membatasi kemampuan data center dan pengembangan AI hingga setidaknya 2030. Hambatan utama termasuk pasokan gas yang tidak cukup, waktu pengembangan pembangkit nuklir yang lama, pembatasan regulasi terhadap energi terbarukan, serta pembatasan impor komponen penting seperti trafo dan komponen baterai. Kondisi ini menahan laju ekspansi infrastruktur energi terkait AI.

Faktor lain yang berperan adalah volatilitas harga gas di pasar AS. Harga gas yang berfluktuasi mempengaruhi biaya marginal listrik, karena biaya listrik grosir ditentukan oleh sumber energi terakhir yang berjalan pada jaringan. Pasar mengharapkan pola ini tetap menjadi faktor penentu utama biaya energi rumah tangga dan industri.

Profesor EIA memprediksi bahwa harga listrik industri dapat naik sekitar 1,8% sepanjang 2026. Lonjakan tersebut menambah tekanan biaya bagi sektor manufaktur dan konstruksi, mendorong perlunya evaluasi kebijakan energi yang lebih adaptif serta langkah-langkah efisiensi energi untuk menjaga daya saing pada kondisi pasar yang dinamis.

broker terbaik indonesia