Ekonom ING James Smith berargumen bahwa pertumbuhan UK belakangan ini kemungkinan terlalu optimis, dan ia memperkirakan pertumbuhan akan melambat seiring inflasi menuju sekitar 4% dan upah riil yang menurun. Ia menyoroti bagaimana dinamika biaya energi yang meningkat dan daya serap harga perusahaan yang melemah menjadi hambatan utama. Dengan faktor-faktor ini, momentum ekonomi terlihat lebih lemah daripada yang terlihat dari data tingkat atas.
Menurut pendapatnya, peluang untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat tidak meyakinkan. Ia menilai harga energi dan daya serap harga korporasi yang lemah mengurangi justificasi untuk kenaikan suku bunga. Oleh karena itu, ia memperkirakan Bank Rate akan berada pada 3,75% sepanjang 2026.
Smith juga memperingatkan bahwa kenaikan harga energi dapat mendorong pengangguran lebih tinggi, memperparah gambaran pertumbuhan yang lemah. Karena kapasitas perusahaan untuk meneruskan biaya ke pelanggan cukup terbatas, real wages cenderung turun lebih lanjut. Ringkasnya, ia tetap pada pandangan bahwa BoE kemungkinan besar tidak akan menaikkan kebijakan dalam jangka dekat.
Beberapa faktor ini menegaskan ketegangan antara jalur inflasi yang kaku dan sinyal pertumbuhan yang lebih lemah. Argumentasinya adalah narasi berita lama tetap relevan di tengah hambatan ekonomi baru. Hasilnya, kebijakan dan pasar cenderung bersikap hati-hati.
Inflasi diproyeksikan mendekati 4% pada pertengahan tahun, dengan momentum tetap kuat dalam beberapa bulan mendatang. Pertumbuhan upah sektor swasta sekitar 3%, dan indikator lain menunjukkan bahwa tekanan tersebut bisa mereda lebih lanjut di kuartal-kuartal mendatang. Dalam konteks ini, upah riil diperkirakan akan menurun, menambah tekanan pada daya beli konsumen.
Biaya energi yang lebih tinggi diperkirakan akan mengalir ke pengangguran dan tekanan margin perusahaan. Kombinasi daya serap harga yang lemah dan biaya terkait energi dipandang membebani aktivitas ekonomi. Secara keseluruhan, dinamika ini mendukung sikap berhati-hati terhadap langkah kebijakan di masa mendatang.
Para trader perlu memahami pandangan ini sebagai pengingat bahwa faktor makro bisa mendominasi pergerakan harga dalam jangka pendek. Fokus pada lintasan inflasi dan dinamika upah mendorong pelaku pasar forex untuk mempertimbangkan pertumbuhan relatif dan ekspektasi kebijakan. Dalam praktiknya, likuiditas serta manajemen risiko harus menjadi prioritas.
Karena artikel ini tidak menyajikan pemicu teknikal spesifik untuk instrumen tertentu, rekomendasi perdagangan yang tegas tidak dapat diberikan. Ketidakpastian jalur suku bunga membuat posisi berisiko tinggi tidak bijak. Trader bisa lebih mengandalkan analisis aksi harga, volatilitas, dan sinyal lintas pasar.
Karena proyeksi kebijakan yang belum jelas, mengelola risiko serta memiliki aturan keluar yang jelas menjadi sangat penting. Cetro Trading Insight akan terus memantau data-data ekonomi yang dapat mengubah arahan kebijakan. Kami berkomitmen menjaga perlindungan modal sambil menunggu indikator yang lebih jelas.