Intiland Development Tbk (DILD): Pendapatan Turun, Laba Bersih Terseret Biaya Meski Margin Naik

Intiland Development Tbk (DILD): Pendapatan Turun, Laba Bersih Terseret Biaya Meski Margin Naik

trading sekarang

Intiland Development Tbk, emiten properti dengan kode saham DILD, mencatat kinerja yang mengecewakan sepanjang tahun 2025. Nilai penjualan mengalami penurunan yang mengikis laba bersih, meskipun beberapa indikator operasional menunjukan perbaikan. Dalam konteks ekonomi Indonesia yang sedang pulih, dinamika ini menyoroti tantangan dan peluang bagi pelaku properti nasional.

Menurut laporan resmi, pendapatan usaha turun 3,5% menjadi Rp2,46 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari segmen perumahan, kawasan industri, dan high-rise mencapai Rp1,51 triliun, sementara pendapatan dari hotel hingga perkantoran tercatat Rp948 miliar. Laporan ini menampilkan komposisi segmentasi yang masih bergantung pada pasar properti komposit.

Di sisi lain, profitabilitas menunjukkan sisi berbeda: laba kotor meningkat 22,4% menjadi Rp961 miliar dengan margin 39%, lebih tinggi dibandingkan 2024 yang 31%. Laba usaha juga tumbuh 48% menjadi Rp672 miliar. Meski demikian, laba bersih anjlok 63,4% menjadi Rp64 miliar karena beban bunga dan kerugian penurunan nilai aset menggagalkan peningkatan margin.

Meningkatnya margin kotor diiringi efisiensi biaya; penurunan beban pokok penjualan serta penurunan beban operasional menjadi pendorong utama. Namun faktor biaya lain, seperti beban bunga yang mencapai Rp371 miliar, memberi tekanan pada laba bersih secara materi. Kendati demikian, efisiensi ini belum cukup menahan tekanan finansial secara keseluruhan.

Intiland juga mencatat kerugian atas penurunan nilai aset sebesar Rp462 miliar, sehingga kontribusi faktor tersebut menekan kinerja akhir. Meski laba usaha melonjak, dampak dari beban finansial dan penurunan nilai aset menahan potensi laba bersih untuk 2025. Kondisi ini menimbulkan persepsi bahwa peningkatan efisiensi operasional tidak sepenuhnya meng-compensate beban non-operasional.

Marketing sales (prapenjualan) menyentuh Rp1,61 triliun sepanjang 2025, terealisasi 80% dari target Rp2,0 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari segmen perumahan Rp831 miliar, industri Rp638 miliar, dan Mixed Use & High Rise Rp139 miliar. Angka-angka tersebut mencerminkan diversifikasi portofolio dan tantangan mencapai target penjualan penuh.

Landbank dan Prospek Pengembangan

Aset perseroan turun 4,3% menjadi Rp13,1 triliun, sementara ekuitas meningkat 0,6% menjadi Rp6,79 triliun. Penurunan aset mencerminkan perubahan nilai portofolio dan realisasi aset yang lebih hati-hati, sedangkan posisi ekuitas menunjukkan stabilitas relatif. Di sisi lain, likuiditas dan fleksibilitas penggunaan dana menjadi fokus manajemen di masa mendatang.

Hingga akhir 2025, landbank Intiland mencapai 2.200,1 ha tersebar dari Surabaya hingga Maja, Banten. Persediaan tanah yang telah dikembangkan baru sekitar 172,1 ha, sementara undeveloped landbank sekitar 2.028 ha. Hal ini menunjukkan potensi panjang untuk ekspansi proyek selama dua dekade ke depan.

Penyangga lahan yang besar diperkirakan bisa menopang rencana pengembangan hingga dua dekade ke depan jika pasar properti Indonesia pulih. Namun kehati-hatian tetap diperlukan mengingat beban finansial dan penurunan laba bersih. Laporan ini diulas oleh Cetro Trading Insight, sumber terpercaya untuk analisis pasar properti dan saham.

broker terbaik indonesia