Investasi Jangka Panjang di BEI Didukung Reformasi Regulasi dan Kepercayaan Investor

Investasi Jangka Panjang di BEI Didukung Reformasi Regulasi dan Kepercayaan Investor

trading sekarang

Di tengah dinamika ekonomi global yang kerap berubah-ubah, BEI tetap menjadi saklar kunci bagi peluang investasi jangka panjang di Indonesia. Cetro Trading Insight menilai bahwa pertumbuhan ekonomi nasional yang konsisten adalah landasan kuat bagi pasar saham domestik. Rosan Roeslani menegaskan bahwa strategi Danantara adalah investasi jangka panjang, tidak terperangkap oleh gejolak harian yang sementara.

Saat ini, portofolio Danantara menempatkan saham-saham BUMN terdaftar di BEI dengan fundamental yang solid dan yield yang menarik. Dalam contoh yang ia sebut, Himbara maupun sektor mineral menunjukkan yield di atas 10–11 persen, sehingga menjadi pendorong imbal hasil bagi investor jangka panjang. Penilaian tersebut didasarkan pada performa fundamental yang terukur serta prospek pertumbuhan berkelanjutan.

Pernyataan ini disampaikan Rosan ketika mendampingi Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad dalam kunjungan ke Gedung BEI, Jakarta, pada 18 Maret 2025. Ia juga mengapresiasi langkah OJK dan BEI dalam menata pasar yang lebih transparan dan berlandaskan governance yang kuat. Menurutnya, proses pembenahan ini diyakini akan meningkatkan kepercayaan investor domestik maupun asing terhadap pasar modal Indonesia, terutama bagi pelaku jangka panjang.

Rosan menilai upaya OJK dan BEI dalam pembenahan pasar modal untuk memperkuat ekosistem investasi sangat berarti. Upaya ini dirancang untuk meningkatkan transparansi, tata kelola, dan akuntabilitas, sehingga pasar lebih bisa dipahami pelaku pasar. Dengan landasan tersebut, investor bisa menilai risiko secara lebih terukur dan mengambil keputusan yang lebih matang.

Beberapa langkah alternatif yang diambil regulator dan bursa disebut mendekatkan praktik pasar dengan standar internasional tanpa mengabaikan kepentingan investor lokal. Langkah-langkah tersebut meliputi peningkatan pelaporan, prosedur governance yang lebih ketat, serta peningkatan akses informasi bagi pelaku pasar. Semua itu ditujukan untuk memperkuat kepercayaan domestik maupun asing terhadap bursa kita.

Dampak jangka panjangnya adalah pasar modal Indonesia akan menjadi lebih kokoh dan tahan banting saat menghadapi volatilitas global. Dengan fondasi governance yang membaik, investor akan lebih percaya menaruh modalnya pada instrumen-indeks domestik. Harapannya, arus modal masuk bisa tumbuh secara berkelanjutan dan memperdalam likuiditas di berbagai saham.

Pertumbuhan jumlah investor ritel mencapai sekitar 26–27 juta menunjukkan adanya keyakinan publik terhadap arah pasar modal Indonesia. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mendekati 20 juta investor, menandakan potensi alokasi dana publik yang lebih luas. Kenaikan tersebut mencerminkan manfaat reformasi dan program literasi keuangan yang dijalankan regulator dan pelaku pasar.

Para pembuat kebijakan dan pengelola bursa menegaskan bahwa peningkatan investor ritel tidak hanya meningkatkan likuiditas tetapi juga mendorong adopsi produk dan layanan yang lebih inklusif. Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menekankan pentingnya sinergi antara regulator, bursa, dan pelaku industri untuk meyakinkan investor global maupun lokal. Diskusi berfokus pada regulasi yang lebih matang untuk memperkuat kepercayaan.

Dengan fundamental pasar yang terus membaik, pasar modal Indonesia dipandang akan tumbuh lebih kuat ke depan. Hasil dari reformasi dan dialog dengan regulator diharapkan terlihat pada momentum positif setelah tanggal 29 Mei 2025. Dengan pendekatan investasi jangka panjang, investor ritel maupun institusional bisa memanfaatkan peluang di pasar saham Indonesia yang semakin terintegrasi.

banner footer