Jasa Marga (JSMR) membukukan kinerja yang turun tajam sepanjang 2025, menandai tantangan besar bagi infrastruktur tol nasional. Dalam laporan keuangan yang dirilis 3 Maret 2026, pendapatan perusahaan mencapai Rp29,9 triliun, turun 6% dari Rp31,8 triliun pada tahun sebelumnya. Fenomena ini menggambarkan tekanan operasional dan kebijakan pembiayaan yang masih berat bagi BUMN jalan tol.
Segmen tol tetap menjadi tulang punggung, namun pendapatan segmennya turun 5,4% menjadi Rp18,2 triliun. Begitu pula segmen konstruksi turun 23% menjadi Rp10,1 triliun saat ini. Dengan demikian, kombinasi kedua segmen menjelaskan penyusutan total pendapatan perusahaan.
Laba bruto tercatat turun 4,2% meski beban tol dan konstruksi mengalami penurunan 11,4% menjadi Rp18,1 triliun. Penurunan beban tersebut mengkompensasi sebagian penurunan pendapatan, tetapi beban keuangan dan pajak kemudian menekan bottom line. Akhirnya laba bersih Jasa Marga turun 19% menjadi Rp3,46 triliun.
Dari sisi likuiditas, neraca menunjukkan perbaikan kas yang signifikan meski utang tetap tinggi. Kas dan setara kas naik 32% menjadi Rp6,75 triliun, memberi landasan pelunasan sebagian kewajiban jangka pendek. Namun tantangan likuiditas tidak hilang karena profil utang membengkak secara keseluruhan.
Liabilitas perusahaan melonjak 8,6% menjadi Rp97,6 triliun, membuat rasio DER berada pada 1,56 kali. Kenaikan utang dikontribusikan oleh utang bank yang outstanding mencapai Rp72,4 triliun serta utang obligasi Rp2,5 triliun. Kondisi leverage ini menambah tekanan pada biaya pembiayaan perusahaan.
Pembiayaan tinggi memunculkan beban keuangan sebesar Rp3,6 triliun sepanjang tahun lalu. Beban tersebut memperkuat tekanan terhadap profitabilitas meski laba bruto sudah terdongkrak. Pada sisi ekuitas, posisi DER yang lebih tinggi dibanding ekuitas Rp62,4 triliun jadi cermin risiko bagi para investor.
Reaksi pasar terhadap laporan 2025 cenderung negatif, dengan saham JSMR terkoreksi 3,6% hingga diperdagangkan sekitar Rp3.470 per lembar. Kapitalisasi pasar perusahaan berada di kisaran Rp25 triliun, menandai besaran nilai pasar yang tertekan. Para investor menilai bahwa peningkatan beban utang dapat membatasi peluang pertumbuhan jangka pendek.
Nilai kapitalisasi sekitar Rp25 triliun mencerminkan dampak kinerja 2025 terhadap valuasi. Dari sisi valuasi, investor perlu memperhatikan likuiditas dan risiko utang. Analisis teknikal juga menunjukkan volatilitas tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Menurut tim analis Cetro Trading Insight, perbaikan neraca diperlukan untuk menurunkan biaya pembiayaan dan mengembalikan momentum pertumbuhan laba. Mereka menekankan perlunya efisiensi operasional dan manajemen utang yang lebih prudent. Karena itu, para investor disarankan untuk memantau rasio leverage dan arah kebijakan pembiayaan Jasa Marga.