Bob Savage, Kepala Strategi Makro di BNY, menilai korelasi historis antara minyak dan dolar yang positif selama lebih dari lima tahun mulai menunjukkan tanda kehilangan kekuatannya. Brent berada di atas 70 dolar per barel dan WTI mendekati 68 dolar, dua indikator harga minyak yang tetap menggerakkan sentimen pasar. Meski demikian, reli minyak sejak Desember tidak otomatis menerjemahkan ke pergerakan dolar yang sejalan, menandakan dinamika yang lebih kompleks di pasar energi dan mata uang.
Analisis ini menenangkan bahwa fokus hanya pada harga minyak saja tidak cukup untuk memahami dinamika dolar yang lebih luas. iFlow data juga menunjukkan aliran USD campuran, dengan tekanan jual bersih pada dolar tidak selalu mengikuti gerak minyak. Dalam konteks ini, pasar menilai adanya perubahan pola aliran dana global yang bisa mempengaruhi berbagai kelas aset.
Peneliti menekankan bahwa perubahan dinamika minyak-dolar bisa mengubah cara investor membaca inflasi dan risiko pendapatan tetap. Peran geopolitik juga kembali berada di radar, dengan Iran dan Selat Hormuz sebagai jalur vital bagi sekitar seperempat pasokan dunia. Namun yang menonjol adalah hubungan minyak-dolar tidak lagi menjadi penggerak tunggal aliran uang dalam tiga bulan terakhir.
Analisis terbaru menyoroti aliran USD yang tidak seragam meski harga minyak naik. Data iFlow menunjukkan beberapa periode net selling dolar meskipun minyak tetap kuat, dan periode lain yang mencerminkan pembelian dolar ketika risiko minyak meningkat. Kondisi ini menandai bahwa pergerakan mata uang utama tidak lagi sepenuhnya selaras dengan lonjakan harga minyak.
Jika dinamika minyak-dolar berubah, ekspektasi inflasi dan risiko bagi pasar obligasi bisa ikut terpengaruh. Inflasi yang lebih kuat biasanya mendorong imbal hasil obligasi naik, sedangkan pola aliran dana dapat memperumit penilaian risiko bagi investor. Dengan demikian, perubahan korelasi minyak-dolar berpotensi memunculkan penyesuaian strategi pada portofolio pendapatan tetap dan diversifikasi.
Para investor juga memantau apakah minyak bisa menembus level kunci sekitar 68 dolar per barel untuk WTI atau 70 dolar untuk Brent, karena level tersebut bisa memberi sinyal atas dinamika inflasi. Perubahan harga minyak yang berdampak pada inflasi bisa meningkatkan volatilitas pada pasar obligasi dan mata uang. Secara teknikal, pergeseran korelasi menuntut pengawasan terhadap indikator inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan arus dana internasional.
Faktor geopolitik kembali mengambil sorotan pasar energi, dengan Iran dan kendala di Selat Hormuz sebagai risiko utama. Kondisi chokepoint ini mengandung potensi gangguan pasokan yang bisa mendorong volatilitas harga minyak. Para pelaku pasar mengingat bahwa sekitar seperempat pasokan dunia melewati jalur tersebut, sehingga ketegangan geopolitik tetap relevan bagi perencanaan risiko.
Yang penting, laporan saat ini menekankan bahwa aliran USD dalam tiga bulan terakhir tidak didorong secara dominan oleh perubahan harga minyak. Ini menggambarkan adanya perubahan dinamika pasar yang bisa membuat hubungan minyak-dolar menjadi lebih kompleks. Investor segera perlu menilai bagaimana volatilitas minyak mempengaruhi ekspektasi inflasi dan prospek imbal hasil jangka panjang.
Secara praktis, kerangka kerja investasi perlu fokus pada keseimbangan antara risiko geopolitik, arah kebijakan moneter, dan sinyal harga minyak. Sementara minyak tetap menjadi komponen utama biaya energi bagi keluarga dan perusahaan, pergerakan dolar dapat mengikuti jalur yang berbeda dari sebelumnya. Cetro Trading Insight mendorong pembaca untuk menjaga diversifikasi, menggunakan pendekatan risiko-terbatas, dan meninjau ulang ekspektasi imbal hasil seiring perubahan dinamika pasar.