
Bank Indonesia mencatat bahwa plafon kredit yang disediakan perbankan masih bisa dimanfaatkan karena sebagian besar fasilitas kredit belum ditarik. Nilai undisbursed loan mencapai Rp2.490 triliun per Juni 2026, setara sekitar 21,52 persen dari plafon yang tersedia. Angka ini menunjukkan adanya cadangan kapasitas pembiayaan bagi pelaku usaha yang bisa direalisasikan seiring pemulihan ekonomi.
Pertumbuhan kredit ke depan didorong oleh ruang pembiayaan yang masih besar. Gubernur BI Perry Warjiyo menilai kondisi ini penting untuk menopang perekonomian melalui peningkatan penyaluran kredit. Hal ini sejalan dengan upaya menjaga likuiditas yang memadai sambil menekan biaya pembiayaan bagi korporasi dan UMKM.
Undisbursed loan diharapkan bisa memicu realisasi kredit lebih lanjut seiring permintaan pembiayaan yang masih besar. Kondisi ini juga didukung oleh likuiditas perbankan yang tetap longgar dan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga yang tinggi. Dengan demikian, prospek kredit untuk 2026 terlihat lebih robust meski perlu dikendalikan risiko.
Minat penyaluran kredit masih longgar seiring dukungan likuiditas. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga tercatat kuat yakni 10,21 persen secara year on year. Hal ini menjaga arus pembiayaan tetap tinggi meskipun dinamika pasar perlu diawasi secara hati-hati.
Dari sisi penawaran, pelonggaran lending appetite didorong oleh kondisi likuiditas yang memadai. Perbankan menunjukkan kesiapan menyalurkan kredit meskipun ada variasi suku bunga yang perlu diperhatikan. Dukungan DPK yang masih tinggi memberikan fondasi pembiayaan yang stabil bagi sektor riil.
BI mempertahankan proyeksi pertumbuhan kredit 2026 di kisaran 8-12 persen. Proyeksi ini mencerminkan harapan adanya realisasi undisbursed loan dan kelanjutan momentum permintaan pembiayaan. Selain itu, publikasi asesmen transparansi SBDK diharapkan meningkatkan efisiensi dan daya saing penyaluran pembiayaan.
BI terus mengoptimalkan kebijakan makroprudensial melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial untuk mendorong peningkatan penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas. Insentif ini dirancang menjaga stabilitas sistem keuangan sambil mendorong pembiayaan ke sektor riil. Kebijakan ini juga menegaskan komitmen BI terhadap keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan manajemen risiko.
Langkah tersebut menguatkan ekosistem pembiayaan dengan fokus pada sektor riil dan UMKM, tanpa mengorbankan stabilitas finansial secara umum. BI berupaya menjaga ketersediaan kredit bagi usaha dan korporasi sambil memitigasi risiko yang saat ini dihadapi perekonomian. Upaya ini diharapkan mampu menjaga kepercayaan pasar dan mendukung prospek ekonomi nasional.
Artikel ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai kebijakan BI, likuiditas perbankan, dan potensi dampaknya terhadap pasar. Informasi ini tidak merupakan rekomendasi trading, namun membantu pembaca memahami dinamika kebijakan moneter dan kredit. Sebagai platform analisis pasar, Cetro Trading Insight berkomitmen menyajikan analisis tefokus dan akurat untuk pembaca nasional.