RaboBanks Global Strategist Michael Every menyatakan bahwa Perang Teluk Ketiga dan penutupan Selat Hormuz telah mendorong harga minyak sekitar 60% lebih tinggi daripada level pra perang. Dampak langsung terlihat pada produk seperti diesel dan jet fuel yang lebih mahal di Asia. Para pelaku pasar kini menilai bagaimana dinamika geopolitik membentuk pasar energi yang sangat sensitif terhadap aliran pasokan.
Penutupan Hormuz memperburuk gangguan pasokan energi di berbagai bagian rantai nilai. Produk-produk seperti diesel, bahan bakar kapal, jet fuel, pupuk, naphtha, belerang, dan helium terdampak lebih berat di beberapa wilayah. Harga minyak secara umum melonjak, meskipun ketersediaan beberapa barang bisa tidak merata tergantung lokasi.
Jika konflik berlanjut berbulan-bulan, krisis energi bisa sebanding dengan pandemik Covid-19 dan krisis minyak pada 1970-an. Ketika perang memasuki minggu kelima, dampaknya terasa jelas meski beberapa geografi lebih terpengaruh. Secara umum, analisis ini mengasumsikan perang bisa berakhir dalam dua hingga tiga minggu dengan tekanan utama berasal dari AS.
Di level geopolitik, perang berpotensi mengubah peta aliansi dan persepsi risiko bagi produsen serta konsumen energi. Skema utama tetap menempatkan AS dan sekutu sebagai faktor penentu di jalur pengiriman minyak melalui Hormuz. Namun dampak jangka menengah dapat meluas ke kebijakan energi nasional serta kontrak jangka panjang.
Risiko fat tail menambah ketidakpastian bagi pasar; meski skenario utama adalah volatilitas jangka pendek, kejutan besar tetap mungkin jika pasokan terganggu lebih lanjut. Pasar bisa mengalami lonjakan volatilitas dan pergeseran spread antara produk energi. Pelaku pasar perlu memantau indikator geopolitik baru serta dinamika pasokan untuk menilai risiko dan peluang.
Beberapa negara mungkin menimbang diversifikasi pasokan dan rantai pasokan energi untuk mengurangi kerentanan terhadap gangguan. Kebijakan publik bisa bereaksi dengan langkah inovatif, seperti insentif produksi domestik atau pembatasan ekspor minyak oleh produsen utama. Investor perlu memantau pergeseran kebijakan dan dinamika pasokan untuk menilai risiko dan peluang.
Intinya, fokus pasar adalah pada faktor fundamental terkait pasokan dan dinamika geopolitik yang sedang berlangsung. Pasokan minyak dan biaya energi bagi rumah tangga serta sektor industri menjadi pusat perhatian utama. Nilai tukar, obligasi, dan saham sensitif terhadap perubahan harga energi serta dinamika permintaan global.
Sejauh ini belum ada level harga atau sinyal teknikal yang jelas untuk entry karena artikel tidak menyediakan data numerik yang diperlukan. Katalis utama tetap berasal dari perkembangan konflik, eskalasi pasokan, dan respons kebijakan. Karena itu, rekomendasi perdagangan bersifat umum dan mengedepankan manajemen risiko.
Meski situasi tetap volatile, investor energi sebaiknya mengikuti pergerakan rute pasokan, perubahan biaya produk seperti diesel dan jet fuel, serta perubahan kebijakan negara-negara konsumen utama. Rantai pasokan global menjadi fokus untuk menilai risiko dan peluang di sektor energi. Strategi diversifikasi dan penggunaan hedging menjadi kunci untuk menjaga eksposur tetap terkendali.