Analisis Commerzbank oleh Carsten Fritsch dan Barbara Lambrecht menunjukkan bahwa konflik di Iran serta penutupan Selat Hormuz telah mendorong Brent serta produk minyak mentah ke level yang lebih tinggi. Sejak awal Maret, harga Brent naik sekitar 57 persen dan berpotensi menjadi kenaikan bulanan terkuat dalam 38 tahun terakhir. Diesel dan bahan bakar jet juga mengalami lonjakan harga yang signifikan dibandingkan minyak mentah.
Ketergantungan tinggi Eropa pada distilat dari Timur Tengah menambah kerentanan pasokan dan membuat penggantian pasokan menjadi tugas berat dalam jangka pendek. Permintaan dari wilayah lain tidak cukup untuk menambal kekurangan pasokan ini, sehingga tekanan harga produk minyak bisa bertahan lebih lama. Dalam konteks ini, volatilitas geopolitik semakin memperkuat ketidakpastian pasar energi secara menyeluruh.
Base-case yang dipegang analis menyatakan perang bisa berakhir pada akhir musim semi. Meski demikian, diesel dan jet fuel diperkirakan tetap berada di atas level pra-perang hingga akhir tahun, menambah argumen bahwa pasar distilat akan menunjukkan dinamika yang berbeda dibanding minyak mentah. Kondisi ini juga meningkatkan risiko bagi konsumen energi dan membuka peluang bagi penyesuaian portofolio energi.
Selain lonjakan harga minyak mentah, spread/ crack spreads untuk produk minyak melebar secara signifikan. Crack spread gasoil sempat menyentuh sekitar USD 56 per barel, diesel mendekati USD 80, dan jet fuel melampaui USD 100 per barel. Fenomena ini menandai tekanan marjin bagi pengilangan dan menggarisbawahi ketidakstabilan harga produk minyak yang lebih halus di tengah gejolak pasokan.
Faktor utama di balik pelebaran crack spread adalah kesulitan mengisi kekosongan pasokan distilat, terutama diesel/gasoil dan jet fuel, karena sebagian besar pasokan berasal dari wilayah Timur Tengah. Selain itu, kesenjangan antara Asia OECD dengan Asia non-OECD dalam menyediakan diesel/gasoil turut meningkatkan ketergantungan pada sumber eksternal yang berisiko gangguan ekspor.
Commerzbank meninjau ulang proyeksi harga untuk produk distilat dengan menaikkan ekspektasi: diesel sekitar USD 1.100 per ton pada pertengahan tahun dan USD 850 per ton pada akhir tahun; jet fuel sekitar USD 1.250 per ton pada pertengahan tahun dan USD 950 per ton di akhir tahun. Revisi ini menekankan bahwa dinamika harga produk bisa berjalan lebih kuat dari pergerakan minyak mentah saja dan mencerminkan tekanan pada margin pengilangan.
Menurut laporan IEA, distilat Timur Tengah tahun lalu mencapai sekitar 730.000 barel per hari (bpd) untuk gasoil/diesel dan 380.000 bpd untuk jet fuel, dengan sisa pasokan berasal dari bensin dan bahan bakar minyak. Angka-angka ini menegaskan peran krusial distilat dalam ekspor produk minyak dan bagaimana gangguan pasokan dapat memicu penyesuaian harga lebih lanjut di pasar global.
Pembatasan ekspor dari Asia non-OECD dan potensi pengurangan pasokan dari negara Asia lain menambah kerentanan rantai pasokan regional. Ketika kebutuhan domestik meningkat, beberapa negara cenderung membatasi atau bahkan menghentikan ekspor distilat, memperparah kekurangan pasokan. Kondisi ini memperkuat tekanan harga produk minyak jika permintaan tetap kuat di tengah ketidakpastian geopolitik.
Sebagai catatan dari Cetro Trading Insight, dinamika geopolitik ini menciptakan peluang bagi investor dan pelaku pasar energi untuk memperhatikan tren Brent serta distilat dalam beberapa kuartal ke depan. Meskipun ketidakpastian tetap tinggi, narasi harga menunjukkan kelanjutan premium pada diesel dan jet fuel yang dapat memicu perubahan alokasi aset di sektor energi.