Likuiditas Perbankan Tahan Tekanan Global: Peluang Saham Bank Besar Menarik

Likuiditas Perbankan Tahan Tekanan Global: Peluang Saham Bank Besar Menarik

trading sekarang

Likuiditas sektor perbankan nasional tetap terjaga meski berada di tengah tekanan makroekonomi global. Analisis dari Sucor Sekuritas menunjukkan bahwa bank-bank tetap memiliki kapasitas pendanaan yang longgar meskipun pertumbuhan kredit melambat. Pada Februari 2026, pertumbuhan kredit tahunan berada di sekitar 9,4%, turun dari 10% pada Januari, menunjukkan perlambatan tetapi tetap menunjukkan daya dorong internal sektor.

Pertumbuhan kredit saat ini didorong oleh kredit investasi yang melonjak lebih dari 22%, sedangkan kredit modal kerja dan kredit konsumsi tumbuh lebih rendah, sekitar 3,9% dan 6,6%. Hal ini mencerminkan minat investasi yang masih kuat di segmen korporasi, sekaligus permintaan konsumen publik yang relatif lemah di segmen mass market dan UMKM.

Di sisi likuiditas, rasio loan-to-deposit (LDR) turun menjadi 84% dari 85% di akhir 2025, menandakan bank-bank masih memiliki kapasitas pendanaan yang cukup. Pertumbuhan CASA sebesar 14% mengungguli deposito berjangka yang tumbuh sekitar 12,6%, dipicu penurunan suku bunga deposito yang menekan biaya dana. Namun, ada tanda-tanda risiko geopolitik dan harga BBM yang volatil berpotensi menunda pemulihan kredit yang sebelumnya diperkirakan terjadi pada paruh kedua 2026, sehingga manajemen risiko tetap menjadi fokus utama.

Laba kumulatif lima bank besar menunjukkan daya tahan dengan pertumbuhan sekitar 10,7% secara tahunan hingga Februari 2026. Pertumbuhan laba didorong oleh penurunan biaya kredit akibat basis tinggi pada tahun-tahun sebelumnya serta perbaikan biaya dana berkat likuiditas yang longgar di pasar.

Secara per-bank, pertumbuhan laba cukup beragam. Bank yang berpuncak pada kenaikan laba sekitar 17% adalah BBRI, BMRI, dan BRIS, sementara BBCA dan BBNI berada pada laju yang lebih moderat yaitu sekitar 3% dan 4% karena kredit tumbuh lebih lambat dan biaya kredit relatif lebih tinggi. Perbedaan ini mencerminkan profil risiko dan posisi pasar masing-masing bank dalam siklus kredit saat ini.

Dari sisi valuasi, sektor perbankan terlihat menarik karena tekanan sentimen global yang menekan harga saham. Secara umum, bank-bank besar diperdagangkan sekitar dua deviasi standar di bawah rata-rata 20 tahun pada ukuran PE dan PBV, menciptakan peluang kenaikan ketika makroekonomi membaik. Dalam risetnya, Sucor Sekuritas menekankan BBCA dan BRIS sebagai pilihan utama karena kekuatan materi risiko yang lebih defensif dan posisi syariah yang kuat.

Prospek sektor perbankan tetap positif meskipun volatilitas makroekonomi belum mereda. Potensi kenaikan saham bank besar dipandang lebih mungkin ketika tekanan makro stabil dan momentum pemulihan kredit terkonfirmasi, terutama jika biaya dana tetap terjaga dan kualitas aset terjaga baik.

Nilai valuasi saat ini menjadi faktor pendukung bagi investor yang mencari exposure ke sektor perbankan. Risiko tetap ada, antara lain dari geopolitik yang berkelanjutan dan volatilitas harga energi yang bisa mempengaruhi daya beli masyarakat. Namun, roling positif terhadap kinerja laba serta dukungan likuiditas membuat bank-bank besar tetap menarik bagi investor jangka menengah hingga panjang.

Sebagai bagian dari edisi analisis, Cetro Trading Insight menekankan pendekatan selektif pada saham perbankan besar dengan kapitalisasi tinggi. Dalam ulasan ini, BBCA dan BRIS diidentifikasi sebagai pilihan utama karena profil pertumbuhan laba yang stabil dan posisi portofolio yang defensif, sambil tetap menjaga manajemen risiko dan kualitas aset. Informasi ini disajikan untuk membantu investor membuat keputusan yang informsional dan bertanggung jawab.

broker terbaik indonesia