Ditulis oleh Cetro Trading Insight
Menurut analisis yang disampaikan oleh Cetro Trading Insight, analis Tatha Ghose dari Commerzbank menilai Lira Turki kini mendekati target kuartalan sekitar 44.0 USD/TRY. Tekanan utama berasal dari ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dan melemahnya keseimbangan eksternal. Hal ini menciptakan atmosfer di mana pasar menilai bahwa upaya rebalancing makroekonomi negara belum membuahkan hasil yang cukup untuk menahan pelemahan mata uang lokal.
Survei inflasi CBT untuk jangka menengah menunjukkan bahwa ekspektasi inflasi akhir 2026 diperkirakan naik menjadi sekitar 24.1%, dibandingkan sekitar 23.2% sebelumnya. Penambahan proyeksi ini, jika dibaca secara menyeluruh, seakan-akan menutup rapat setiap harapan akan perbaikan berarti dalam waktu dekat. Pasar menafsirkan bahwa jalur inflasi tetap membebani nilai tukar meskipun ada langkah-langkah kebijakan yang diambil.
Di sisi neraca pembayaran, data Desember menunjukkan defisit rekening berjalan yang melebar dan arus modal turun tajam. Kombinasi balanace of payments yang memburuk dengan ekspektasi inflasi yang naik mendukung pandangan bahwa lira akan terus menghadapi tekanan penurunan nilai lebih lanjut. Kefatalan tekanan ini terlihat dari reaksi pasar terhadap level-level tukar yang ditembus secara bertahap.
Faktor-faktor fundamental tersebut memperkuat keraguan investor terhadap kemampuan Turki untuk menyeimbangkan makro secara cepat. Pergerakan lira yang menembus level penting dan terus melemah mengindikasikan sentimen pasar yang kurang positif terhadap prospek neraca pembayaran dan stabilitas harga dalam beberapa kuartal ke depan. Dalam konteks ini, volatilitas di pasar FX cenderung meningkat karena investor menimbang risiko eksternal terhadap kebijakan domestik.
Dengan aliran modal yang menipis dan cadangan yang terus dipantau pasar, tekanan pada bank sentral dan kebijakan fiskal meningkat. Pasar juga menilai bahwa tanpa perbaikan signifikan pada defisit neraca berjalan dan defisit akun primer, jarak antara angka inflasi yang lebih tinggi dan target stabilisasi akan makin melebar. Efek dominonya adalah pelemahan berkelanjutan pada mata uang lokal terhadap dolar AS.
Analisis ini menggarisbawahi bahwa tren depresiasi lira lebih didorong oleh dinamika fundamental jangka menengah daripada dinamika teknikal jangka pendek. Para pelaku pasar akan terus memantau rilis data inflasi, neraca pembayaran, dan kebijakan moneter sebagai indikator arah berikutnya. Secara keseluruhan, kondisi ini menambah tekanan bagi stabilitas nilai tukar dalam beberapa bulan mendatang.
Target 44.0 USD/TRY yang disebutkan menempatkan lira dalam posisi yang rentan jika kondisi eksternal tetap memburuk. Investor perlu memperhatikan bagaimana data inflasi menyempurnakan perkiraan kebijakan bank sentral dan bagaimana defisit neraca berjalan merespons intervensi kebijakan. Dalam kerangka ini, prospek jangka pendek hingga menengah lebih condong pada pelemahan berkelanjutan jika faktor-faktor fundamental tetap tidak berubah secara signifikan.
Meski demikian, tidak menutup kemungkinan adanya perubahan jika kebijakan fiskal dan moneter mengambil langkah-langkah yang lebih agresif untuk menahan pelemahan nilai tukar. Pasar akan menilai efektivitas intervensi cadangan devisa, serta sinyal mengenai penyesuaian suku bunga dan komponen-komponen kebijakan lainnya. Investor disarankan untuk tetap berhati-hati terhadap volatilitas dan mempertimbangkan hedging terhadap risiko nilai tukar.
Secara keseluruhan, analisa dari Cetro Trading Insight menekankan bahwa tekanan pada Lira Turki lebih terkait dengan dinamika inflasi dan neraca pembayaran daripada faktor teknikal semata. Pelaku pasar diharapkan terus memantau indikator fundamental utama serta bagaimana respons pemerintah terhadap tantangan makro dapat mengubah lintasan depreciation secara signifikan di masa mendatang.