Analisis dari Societe Generale menyoroti volatilitas harga gas di pasar global dalam beberapa minggu terakhir. Cuaca ekstrem memicu lonjakan harga gas AS hingga melewati puncak sekitar 7 dollar per MMBtu, sebelum bergerak turun kembali ketika persediaan tetap berada di dekat rata-rata sepuluh tahun. Kondisi ini menggarisbawahi betapa sensitifnya pasar terhadap dinamika cuaca, permintaan musiman, dan perubahan stok yang dapat membawa belokan harga secara tajam.
Para analis menilai bahwa penurunan harga energi karbon dan ekspansi pasokan LNG global menjadi dua pendorong utama yang menimbang prospek harga gas Eropa menjadi lebih rendah. Peralihan dari pembangkit batu bara ke gas menjadi lebih cost-effective, sehingga pola switching gas-to-coal bisa terjadi pada tingkat harga gas yang lebih rendah dari sebelumnya. Akibatnya, jalur harga gas di Eropa berpotensi menukik seiring menyeimbangkannya pasokan regional dengan arus LNG global.
Lebih lanjut, dinamika ini membentuk jaringan keterkaitan pasar gas secara global. AS, Eropa, dan Asia disebut-sebut berada dalam kerangka musim yang hampir identik, memanfaatkan lonjakan permintaan di musim dingin dan penurunan aktivitas pada periode shoulder. Dengan keterkaitan yang semakin erat, volatilitas jangka panjang cenderung terkendali meski fluktuasi jangka pendek masih mungkin terjadi.
Pertumbuhan pasokan LNG diperkirakan semakin mempererat hubungan antara pasar gas global. LNG yang lebih mudah dipindahkan membuat aliran gas antar benua menjadi lebih fluid dan responsif terhadap perubahan permintaan, sehingga dinamika pasokan menjadi lebih terkoordinasi secara global.
Penurunan biaya karbon meningkatkan daya saing gas terhadap batu bara, yang berarti opsi switching gas-to-coal bisa terjadi pada harga gas yang lebih rendah. Kondisi ini menambah tekanan pada harga gas Eropa dan meningkatkan potensi penurunan lebih lanjut seiring ekspansi LNG global yang berlanjut.
Untuk proyeksi ke depan, forward curves hingga 2027 menunjukkan profitabilitas ekspor LNG bisa turun mendekati nol, menandai integrasi pasar gas yang lebih luas secara global. Hal ini sejalan dengan ekspektasi pasar pada beberapa periode sebelumnya dan menyarankan arus arbitrase LNG yang lebih terbatas. Akibatnya, volatilitas pasar gas global diperkirakan menjadi lebih tahan banting terhadap kejutan regional.
Tekanan pasokan yang berlanjut mendorong pasar gas global menuju keseimbangan yang lebih luas. Pasar menghadapi risiko penyesuaian harga jangka menengah akibat oversupply yang sedang berlangsung, dengan dinamika regional yang tidak selalu sinkron. Proses penyesuaian ini dapat mengandung perubahan arah perdagangan gas antar wilayah untuk menjaga keseimbangan global.
Berbagai dinamika mengarah pada jaringan pasar gas yang lebih terkoordinasi. Arus gas diperkirakan menyesuaikan aliran secara lebih cepat saat ada kekurangan pasokan di satu wilayah, sehingga volatilitas harga cenderung menurun dan likuiditas pasar meningkat seiring waktu. Investor perlu memperhatikan indikator likuiditas dan hubungan antar-benua sebagai bagian dari manajemen risiko energi.
Analisis ini disusun oleh Cetro Trading Insight dengan bantuan alat kecerdasan buatan dan ditinjau oleh editor. Dapat dipakai sebagai referensi untuk memahami tren makro energi tanpa mengikat keputusan trading tunggal, mengingat dinamika pasar gas yang sangat dinamis.