
Kisah investor kawakan Lo Kheng Hong kembali menggetarkan layar bursa. Di tengah IHSG yang melorot, Pak Lo memilih untuk menambah posisi saham PT Intiland Development Tbk (DILD). Langkah ini dipandang sebagai isyarat kepercayaan jangka panjang terhadap fundamental perusahaan properti tersebut.
Sesuai keterbukaan informasi, LKH memborong DILD senilai Rp2 miliar pada harga Rp129 per saham sebanyak 15,18 juta lembar. Transaksi ini menambah catatan akumulasi yang berkelanjutan sejak akhir 2025, saat dia mulai melancarkan pembelian secara reguler. Langkah ini menegaskan keyakinan terhadap potensi pertumbuhan emiten properti meskipun lanskap IHSG sedang melemah.
Data KSEI menunjukkan total kepemilikan DILD milik Lo mencapai 750,52 juta saham atau sekitar 7,24% dari modal perseroan. Ia aktif melakukan pembelian secara reguler, menandai pola investasi jangka panjang yang konsisten meskipun IHSG beragam pergerakannya. Banyak analis melihatnya sebagai sinyal off-market terhadap nilai fundamental DILD dan komitmen terhadap prinsip value investing.
Selain DILD, LKH juga memborong saham Gajah Tunggal Tbk (GJTL). Berdasarkan data KSEI, ia membeli 692.100 saham GJTL pada periode 11–12 Mei 2026. Transaksi ini memperkaya jejak LKH di sektor ban dan menguatkan citra dirinya sebagai investor yang gigih mengumpulkan saham berkualitas.
Dengan pembelian itu, kepemilikan LKH di GJTL naik menjadi 234,92 juta saham, setara 6,74%. GJTL menjadi salah satu saham favoritnya dan secara berkala dibeli hampir setiap bulan, menunjukkan komitmen jangka panjang terhadap saham-saham unggulan dalam portofolionya. Aktivitas reguler ini mencerminkan pendekatan nilai buy-and-hold yang kerap diasosiasikan dengan gaya investornya.
Kepemilikan LKH tidak hanya terbatas pada dua saham; BEI dan KSEI menampilkan portofolio dengan lima saham >5%, yaitu DILD, GJTL, BMTR, ABMM, SIMP, serta daftar 13 saham lain mulai dari RALS hingga SRIL. Kepemilikannya pada beberapa emiten menunjukkan pendekatan konsisten terhadap peluang nilai jangka panjang. LKH kerap memilih saham dengan fundamental kuat dan likuiditas memadai, sambil mengurangi risiko lewat diversifikasi moderat. Input publik di BEI menambah kredibilitas narasi tersebut.