
Lonjakan ambisius mobilitas publik mengubah wajah transportasi Jakarta: hingga Juni 2026, jumlah penumpang transportasi umum mencapai 230,8 juta orang, naik 9,7% dibanding kuartal yang sama tahun lalu. Angka ini menandai momentum baru bagi kota metropolitan yang tengah memperbaiki konektivitas antarmoda. Peningkatan tersebut bukan sekadar angka, melainkan cermin perubahan perilaku warga yang lebih memilih opsi publik untuk mobilitas harian. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk pembaca yang membutuhkan gambaran jelas mengenai tren infrastruktur dan dampaknya terhadap aktivitas ekonomi.
Jenis transportasi publik yang berkontribusi meliputi Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta, yang semakin terintegrasi dalam satu jaringan. Konektivitas antar moda di Jakarta telah mencapai tingkat yang signifikan, memudahkan pergerakan warga dari satu modus ke modus lain tanpa hambatan berarti. Kinerja ini juga mencerminkan upaya pemerintah daerah dalam memprioritaskan mobilitas publik sebagai motor perekonomian kota.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa peningkatan ini didorong konektivitas antarmoda yang terus meningkat. Pada konferensi pers APBD DKI Jakarta Kuartal II-2026, beliau menjelaskan bahwa jumlah penumpang TJ, MRT, dan LRT mencapai 230,8 juta penumpang pada kuartal kedua tersebut. Ia menambahkan bahwa tingkat konektivitas kini berada di atas 93 persen, menandai kemajuan signifikan dibanding era sebelumnya. Perkembangan ini tidak hanya berdampak pada mobilitas, tetapi juga potensi peningkatan aktivitas ekonomi di sekitar koridor transportasi publik.
Untuk memperkuat tren positif, pemerintah provinsi berencana mengoperasikan LRT Jakarta Fase 1B yang menghubungkan Kelapa Gading dengan Manggarai. Peresmian direncanakan pada Agustus 2026, dengan harapan menambah jaringan dan kenyamanan warga. Target penggunaan harian LRT setelah jalur ini beroperasi penuh diproyeksikan mencapai 80.000 penumpang, meski pada tahap awal diperkirakan berada di kisaran 50.000–60.000 orang per hari. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan akses menuju pusat aktivitas ekonomi dan memacu mobilitas komersial.
Sementara itu, pembangunan MRT Jakarta Fase 2A dengan rute Bundaran HI–Kota terus berjalan. Pekerjaan konstruksi bawah tanah telah tersambung, sehingga beberapa ruas jalan yang terdampak proyek dapat dinormalisasi secara bertahap. Progres konstruksi MRT Fase 2A berada pada angka mengesankan, menandakan kemajuan konkret dalam memperluas kapasitas transportasi massal Jakarta. Peningkatan infrastruktur ini diharapkan menurunkan waktu tempuh dan meningkatkan kenyamanan pengguna.
Selain itu, Pemprov berencana membangun pedestrian di kawasan Dukuh Atas guna memperkuat integrasi antarmoda transportasi publik dan memudahkan pergerakan pejalan kaki. Intervensi ini juga menempatkan Dukuh Atas sebagai hub mobilitas yang lebih efisien, mendekatkan warga ke fasilitas perkantoran, transit, dan layanan publik. Dengan demikian, integrasi antara TJ, MRT, dan LRT bisa berjalan mulus dan mendorong aktivitas ekonomi di sekitar pusat kota.
Di sisi kebijakan, program transportasi gratis juga mendapat respons positif dari publik. Hingga Juni 2026, layanan tersebut telah dimanfaatkan oleh 8,53 juta penumpang dari 15 kelompok masyarakat penerima manfaat, menunjukkan akseptabilitas dan dampak sosial yang luas. Kebijakan ini memperlihatkan bagaimana pemerintah daerah berupaya meningkatkan akses mobilitas bagi berbagai lapisan masyarakat sambil menjaga beban fiskal kota.
Secara infrastruktur, progres MRT Jakarta telah mencapai 61,8% dan konstruksi LRT Jakarta Fase 1B mencapai 94,1%. Pembangunan pedestrian di Dukuh Atas disebut sebagai langkah konkret untuk memperkuat integrasi antarmoda transportasi publik. Kepala Badan Pembinaan BUMD Provinsi DKI Jakarta menekankan ada rencana untuk memulai pembangunan pedestrian yang bisa memperlancar mobilitas harian warga secara signifikan. Mobilitas yang lebih baik diharapkan menjadi trigger ekonomi Jakarta, mendukung aktivitas bisnis, ritel, dan investasi di wilayah strategis.
Kenaikan mobilitas publik dipandang tidak sekadar perbaikan mobilitas, tetapi juga sinyal positif bagi perekonomian lokal. Analisa ini disusun berdasarkan data resmi Pemprov DKI dan disiapkan untuk pembaca ekonomi, dengan narasi yang berfokus pada dampak kebijakan, infrastruktur, dan peluang investasi. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.