DBS Group Research memprediksi bahwa Monetary Authority of Singapore (MAS) akan sedikit meningkatkan slope dari kebijakan SGD Nominal Effective Exchange Rate (NEER) pada pertemuan 14 April. Langkah ini dipandang sebagai normalisasi, yang membalikkan penurunan slope tahun lalu untuk menghadapi lanskap inflasi global yang lebih tinggi. Dengan gejolak harga energi dan volatilitas pasar komoditas, kebijakan tersebut dinilai lebih fokus pada stabilisasi harga yang terangkat oleh impor.
Proyeksi ini menyoroti peralihan prioritas kebijakan dari pelemahan kurva ke arah pengetatan moderat guna menahan lonjakan inflasi impor. Penyesuaian ini juga dipicu oleh tekanan harga energi yang lebih luas, sehingga MAS diharapkan memperbarui proyeksi inflasi inti ke kisaran yang lebih tinggi. Petinggi MAS diperkirakan juga meninjau ulang proyeksi CPI-All Items seiring dampak energi terhadap harga konsumen.
Artikel ini disusun dengan bantuan alat AI dan telah diverifikasi oleh editor kami. Cetro Trading Insight berkomitmen memberikan analisis berimbang seputar kebijakan moneter Singapura dan dampaknya terhadap pasar valuta asing.
Harga Brent diperkirakan tetap tinggi mendekati sekitar USD 100 per barel, menambah beban impor bagi perekonomian Singapura. Kondisi ini meningkatkan risiko kenaikan harga barang impor dan menekan kepekaan inflasi terhadap kebijakan. MAS dipandang mempertimbangkan langkah-langkah yang menahan ekspektasi harga inti agar tidak terleakang oleh shock energi global.
Selain itu, laju ekspor Singapura tetap tangguh meski permintaan global berangsur normal, memberi ruang bagi MAS untuk menyeimbangkan respons kebijakan. Proyeksi harga CPI-All Items cenderung naik sesuai dengan tekanan energi, sehingga pembaruan proyeksi inflasi inti ke kisaran 1,5–2,5% menjadi wajar. Perkiraan pertumbuhan 1Q26 di sekitar 5,4% yoy (1,1% qoq sa) juga menjadi faktor penyangga bagi penyesuaian kebijakan.
Langkah kebijakan MAS akan diiringi pembaruan 1Q26 advance GDP, yang diperkirakan menunjukkan dinamika pertumbuhan yang kuat namun mulai melambat. Nilai ini menambah konteks bagi para pelaku pasar untuk memahami bagaimana kebijakan moneter menyeimbangkan stabilitas harga dengan pertumbuhan ekonomi. Investor perlu memantau bagaimana sinyal kebijakan berinteraksi dengan arus dana global dan likuiditas pasar valuta asing.
Proyeksi GDP 1Q26 yang lebih moderat, meski tetap kuat, menambah narasi bahwa MAS siap menyesuaikan kebijakan tanpa mengorbankan stabilitas harga. Normalisasi slope NEER dianggap sebagai langkah teknis untuk menjaga hubungan nilai tukar terhadap mitra dagang utama. Investor forex menilai langkah ini sebagai sinyal bahwa kebijakan akan lebih responsif terhadap perubahan tekanan harga global.
Dinamika ekspor yang tetap resilient memberi ruang bagi MAS untuk menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali sambil mendukung pertumbuhan. Peningkatan proyeksi inflasi dan potensi kenaikan target CPI mendorong pasar untuk menilai kembali outlook imbal hasil dan likuiditas. Pengamat pasar menekankan pentingnya memperhatikan rilis data inflasi dan angka GDP berikutnya untuk memahami arah kebijakan lebih lanjut.
Seiring rilis kebijakan oleh MAS, Cetro Trading Insight menyajikan pandangan yang berimbang bagi para pembaca. Artikel ini menekankan bahwa perubahan kebijakan bersifat adaptif terhadap lingkungan geopolitik dan energi. Pemantauan rilis data dan pernyataan MAS menjadi kunci dalam menentukan alokasi risiko pada instrumen terkait mata uang Singapura.