
MBG baru akan menata bantuan dengan lebih tepat sasaran tanpa menghapus dukungan terhadap permintaan ayam nasional. Rencana restruktur ini dipandang sebagai momen penting dalam tata kelola program gizi nasional. Bahana Sekuritas menilai perubahan ini tidak akan memicu tekanan berlebih pada industri unggas, melainkan menjaga momentum permintaan sambil meningkatkan efisiensi program.
Dalam risetnya, analis Bahana menegaskan rekomendasi overweight untuk sektor unggas tetap kuat. Mereka menilai respons permintaan terhadap perubahan skema relatif terkendali dan melihat prospek harga ayam masih positif meski menghadapi siklus musiman Suro. Secara keseluruhan kebijakan ini mencerminkan pergeseran dari ekspansi menuju peningkatan efisiensi dan dampak gizi yang lebih terukur.
Perubahan utama meliputi penargetan penerima MBG yang lebih fokus pada ibu hamil, balita, dan siswa usia dini. Bahana memperkirakan sekitar 8 juta penerima bisa tidak masuk program MBG, terutama dari kelompok SMA. Selain itu, jumlah dapur operasional MBG dibatasi hingga 27.820 unit dengan alokasi sumber daya ke wilayah 3T, sehingga upaya distribusi menjadi lebih fokus pada kebutuhan prioritas.
Secara makro, meskipun MBG direstrukturisasi, dampaknya terhadap permintaan ayam diperkirakan relatif terbatas. Perkiraan Bahana menyebut total permintaan turun 4–5 persen dibanding proyeksi sebelumnya, meski penyerapan ayam dari MBG bisa turun lebih besar sekitar 29–34 persen. Analisis ini menekankan bahwa dinamika permintaan masih dipengaruhi oleh siklus musiman dan faktor konsumsi lainnya.
Harga ayam hidup di Jawa telah turun sekitar 10 persen secara kuartalan, sedangkan harga day old chick DOC turun sekitar 20 persen. Penurunan harga saat ini lebih banyak dipicu oleh siklus Suro yang membuat margin di level impas, sehingga perubahan kebijakan MBG tidak menjadi satu-satunya faktor penekan harga. Kondisi ini menunjukkan pasar tetap sensitif terhadap variabel musiman dan pasokan lokal.
Bahana memegang pandangan harga rata-rata ayam hidup 2026 di kisaran Rp20.000–Rp21.000 per kg dan DOC Rp6.000–Rp7.000 per ekor. Dari sisi kinerja keuangan, emiten unggas diperkirakan menghadapi tekanan laba inti di Q2-2026 sekitar 50 persen secara QoQ, meskipun tren ini diperkirakan bersifat sementara dan normalisasi permintaan akan memperkuat pembacaan pasar di kuartal-kuartal mendatang.
Risiko utama yang perlu diwaspadai adalah potensi kenaikan biaya pakan lebih tinggi dari ekspektasi serta penurunan permintaan jika restruktur MBG meluas melebihi harapan. Perubahan kebijakan ini juga menyoroti pergeseran fokus ke efisiensi operasional dan dampak gizi yang lebih luas bagi tiga kelompok sasaran nasional. Investor perlu memantau dinamika anggaran MBG serta respons publik terhadap program yang direstrukturisasi.
Sebagai rekomendasi, Bahana tetap menyoroti JPFA dan CPIN sebagai saham unggulan dengan arah overweight pada sektor unggas. Meskipun ada tekanan periode pendek, posisi tersebut mengindikasikan potensi pemulihan sejalan normalisasi permintaan dan dukungan kebijakan. Risiko volatilitas tetap ada karena pergerakan dana investor bisa responsif terhadap perubahan kebijakan dan harga input.
Bagi investor, kebijakan MBG yang direstrukturisasi menghadirkan peluang jangka menengah hingga panjang meski volatilitas sesaat. Cetro Trading Insight akan terus memantau perkembangan MBG, respons pasar, dan kinerja JPFA serta CPIN sebagai bagian dari rekomendasi portofolio kami. Pembaruan analisis akan dirilis secara berkala untuk menjaga transparansi dan akurasi.